Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 100 basis poin (bps) sepanjang tahun 2026. Adapun, langkah BI ini ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya gejolak ketidakpastian global.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI menaikkan 50 bps pada Mei lalu. Kemudian, dalam RDG Mingguan awal Juni, BI kembali menaikkan suku bunga acuan 25 bps hingga 5,50%. Pada RDG 17-18 Juni 2026, BI kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%. Dengan kenaikan ini, total kenaikan suku bunga acuan sepanjang tahun ini mencapai 100 bps.
Ekonom Bank Mandiri Faisal Rahman mengatakan keputusan BI untuk menaikkan suku bunga BI sebesar 25bps lagi menjadi 5,75% pada pertemuan 26 Juni, setelah kenaikan suku bunga 25bps yang mengejutkan sebelumnya di bulan yang sama, bukanlah hal yang sepenuhnya tidak terduga.
Sebelumnya, Bank Mandiri melihat bahwa masih ada ruang untuk kenaikan suku bunga kebijakan lebih lanjut selama sisa tahun 2026. Namun, kenaikan terbaru ini terjadi lebih awal dari perkiraan Mandiri, karena Mandiri hanya mengantisipasi kenaikan suku bunga tambahan pada awal kuartal ketiga tahun 2026.
"Menurut pandangan kami, kenaikan suku bunga ini mencerminkan langkah antisipasi yang bertujuan untuk mengurangi risiko kenaikan premi risiko pada aset keuangan Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan domestik, khususnya setelah sikap kebijakan Fed yang lebih hawkish dari yang diperkirakan pada pertemuan FOMC 26 Juni," ujar Faisal.
Dari perspektif fundamental makroekonomi, ekonomi Indonesia tetap relatif tangguh. Namun, Faisal menilai kerentanan domestik juga tetap tinggi, terutama karena potensi dampak tertunda dari harga energi global yang lebih tinggi dan depresiasi rupiah terhadap prospek inflasi Indonesia, posisi fiskal, dan neraca eksternal.
"Faktor-faktor ini dapat meningkatkan tekanan inflasi impor melalui kenaikan biaya input dan berkontribusi pada pelebaran defisit kembar," paparnya.
Dari sisi fiskal, penerimaan pemerintah yang lebih lemah dari perkiraan dapat membatasi fleksibilitas fiskal pada saat kewajiban pembayaran utang dan pengeluaran subsidi energi meningkat, terutama jika pemerintah terus mengejar agenda pertumbuhan ekspansif.
Sementara itu, sektor eksternal kemungkinan akan menghadapi tekanan yang meningkat dari impor yang lebih tinggi, terutama untuk energi dan barang setengah jadi, sementara ekspor mungkin tetap lesu di tengah perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian yang terus-menerus. Akibatnya, defisit transaksi berjalan dapat melebar lebih jauh, menambah tekanan pada rupiah.
"Tantangan-tantangan ini telah berkontribusi pada premi risiko yang lebih tinggi pada aset keuangan Indonesia dan tekanan depresiasi yang berkelanjutan pada rupiah," tambahnya.
Selain itu, sentimen investor mungkin tetap waspada menjelang peristiwa-peristiwa penting, termasuk tinjauan klasifikasi pasar MSCI yang akan datang dan penilaian peringkat kedaulatan S&P untuk Indonesia pada Juni 2026 dan Juli 2026.
Dengan demikian, dia melihat bahwa lintasan suku bunga BI di masa depan sebagian besar akan bergantung pada bagaimana ketidakpastian global dan domestik berkembang.
"Periode ketidakpastian yang berkepanjangan dapat menyebabkan premi risiko yang lebih tinggi pada aset keuangan Indonesia, yang berpotensi mendorong BI untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat, yang mengindikasikan kenaikan suku bunga lebih lanjut," katanya.
Sebaliknya, Faisal menilai jika risiko eksternal dan domestik secara bertahap mereda dan kondisi pasar keuangan stabil, kebutuhan akan pengetatan kebijakan lebih lanjut dapat berkurang, memungkinkan BI memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam menyesuaikan respons kebijakannya sejalan dengan perkembangan ekonomi fundamental.
"Karena kami memperkirakan tekanan ini akan secara bertahap mereda pada paruh kedua tahun 2026, untuk saat ini kami mempertahankan perkiraan dasar kami bahwa suku bunga BI akan tetap di 5,75% untuk sisa tahun 2026," tegasnya.
Namun, jika tekanan eksternal dan domestik berlanjut atau meningkat, Faisal melihat kemungkinan bagi BI untuk menerapkan kenaikan suku bunga kebijakan lebih lanjut untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan pasar keuangan.
(haa/haa)
Addsource on Google

2 hours ago
3
















































