Aisha Mayra, CNBC Indonesia
20 June 2026 17:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga pemakaian internet di belahan dunia. Mengakses internet ternyata bisa semurah secangkir kopi atau semahal tiket pesawat.
Data Broadband Genie menunjukkan biaya internet rumah di Iran hanya US$2,61 per bulan atau sekitar Rp 46.392 (US$1= Rp 17.775). Sebaliknya, pelanggan di Wallis dan Futuna harus membayar hingga US$373,88 per bulan atau sekitar Rp6,65 juta..
Untuk layanan yang sama, selisihnya mencapai 143 kali.
Perbedaan itu menunjukkan satu hal. Internet mungkin tanpa batas, tetapi biaya untuk terhubung masih sangat ditentukan oleh tempat seseorang tinggal.
Pulau Kecil, Tagihan Besar
Wallis dan Futuna menjadi pasar internet termahal di dunia pada 2026 dengan biaya rata-rata US$373,88 per bulan. Posisi berikutnya ditempati Turkmenistan sebesar US$286,24 dan Turks and Caicos sebesar US$252.
Wallis dan Futuna adalah wilayah Prancis yang terletak di Samudra Pasifik Selatan, di antara Fiji dan Samoa.
Pola yang muncul cukup jelas. Sebanyak 18 dari 25 pasar internet termahal di dunia merupakan negara atau wilayah kepulauan.
Wilayah dengan populasi kecil biasanya memiliki pelanggan yang terbatas, sementara biaya pembangunan jaringan tetap tinggi. Akibatnya, biaya infrastruktur harus dibagi kepada lebih sedikit pengguna.
Internet Ternyata Punya Jalan Fisik
Internet sering dianggap sebagai dunia virtual yang tidak mengenal batas. Kenyataannya, sebagian besar lalu lintas data masih bergantung pada infrastruktur fisik.
Sekitar 99% lalu lintas internet global mengalir melalui kabel bawah laut yang menghubungkan berbagai benua. Kabel inilah yang menjadi tulang punggung internet dunia.
Negara yang jauh dari jalur utama jaringan global atau berada di wilayah terpencil umumnya menghadapi biaya konektivitas yang lebih mahal. Karena itu, geografi masih menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan harga internet.
Semakin jauh sebuah wilayah dari pusat jaringan, semakin mahal pula biaya untuk terhubung.
Murah Tidak Selalu Lambat
Harga internet yang murah ternyata tidak selalu identik dengan layanan yang buruk.
Menariknya, kedua negara tersebut juga termasuk dalam kelompok negara dengan kecepatan fixed broadband tertinggi di dunia.
Artinya, biaya murah tidak selalu berarti kualitas yang rendah. Dalam beberapa kasus, persaingan dan investasi jaringan justru mampu menghadirkan layanan yang cepat sekaligus terjangkau.
Ukraina menjadi contoh menarik. Sebelum perang, negara tersebut memiliki sekitar 1.500 penyedia layanan internet. Di sejumlah apartemen, pelanggan bahkan dapat memilih lebih dari sepuluh operator yang bersaing mendapatkan pelanggan.
Persaingan yang tinggi pada akhirnya ikut menekan harga.
Posisi Indonesia
Indonesia juga masuk kelompok negara dengan biaya internet yang relatif rendah.
Rata-rata biaya fixed broadband di Indonesia mencapai US$10,66 per bulan. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan internet termurah ke-12 di dunia.
Biaya internet di Indonesia lebih rendah dibandingkan China yang mencapai US$14,30 per bulan, Kazakhstan sebesar US$15,23, maupun Türki sebesar US$17,76.
Dengan kurs Rp17.775 per dolar AS, biaya internet rumah di Indonesia setara sekitar Rp189.481 per bulan.
Meski demikian, harga yang relatif murah belum sepenuhnya mencerminkan pemerataan akses. Perbedaan kualitas jaringan dan kecepatan internet antarwilayah masih cukup lebar.
Biaya Masuk ke Ekonomi Digital
Peran internet saat ini jauh melampaui komunikasi dan hiburan.
Aktivitas bekerja, belajar, berbelanja, transaksi keuangan, hingga penggunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan semakin bergantung pada koneksi yang stabil dan terjangkau.
Karena itu, biaya internet bukan lagi sekadar tagihan bulanan. Ia juga menentukan seberapa mudah masyarakat dapat berpartisipasi dalam ekonomi digital.
Negara yang mampu menyediakan internet murah pada dasarnya sedang menurunkan biaya untuk bekerja, belajar, dan menjalankan usaha di era digital.
Internet sering disebut sebagai dunia tanpa batas. Namun daftar harga broadband global menunjukkan kenyataan yang berbeda.
Di era digital, lokasi tempat tinggal masih menjadi salah satu faktor yang menentukan seberapa mahal seseorang harus membayar untuk terhubung dengan dunia.
(mae/mae)
Addsource on Google

1 hour ago
2

















































