Survei Dunia: Warga RI Lebih Pro Amerika dari Warga Singapura-Malaysia

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) masih menjadi salah satu negara paling berpengaruh di dunia. Namun, citra Negeri Paman Sam ternyata sangat berbeda di setiap negara.

Berdasarkan survei Morning Consult America Reputation Tracker periode Januari 2026 terhadap 45 negara, Israel dan Nigeria menjadi negara yang paling menyukai AS. Sebanyak 83% responden di kedua negara tersebut memiliki pandangan positif terhadap Amerika.

Temuan menarik lainnya adalah negara-negara berkembang justru menunjukkan tingkat dukungan yang lebih tinggi dibanding banyak sekutu tradisional AS di Barat. Vietnam, India, dan Filipina bahkan mencatat tingkat favorabilitas yang melampaui sejumlah negara Eropa dan Amerika Utara.

Secara keseluruhan, dukungan terhadap AS kini semakin banyak datang dari negara-negara berkembang, sementara citra Amerika mulai memudar di sejumlah sekutu lamanya.

Israel dan Nigeria Jadi Pendukung Terbesar AS

Israel dan Nigeria menduduki posisi teratas dalam survei dengan tingkat pandangan positif sebesar 83%.

Posisi lima besar kemudian dilengkapi oleh Maroko, Vietnam, dan Peru. Hasil ini menunjukkan bahwa dukungan paling kuat terhadap AS kini tidak lagi hanya berasal dari lingkaran sekutu tradisional Barat.

Warga Indonesia juga lebih banyak memandang positif AS. Dalam survey sebanyak 45% yang disurvei menunjukkan sikap positif ke AS dan 39% yang negatif sementara sisanya netral.

Pandangan positif warga AS bahkan lebih tinggi dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura.

India menjadi negara ekonomi besar dengan tingkat favorabilitas tertinggi terhadap AS, yakni mencapai 62%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Kanada, Jerman, maupun Prancis.

Sementara itu, Argentina juga berhasil masuk 10 besar negara yang paling positif memandang Amerika. Hal ini mengindikasikan bahwa citra AS cenderung lebih kuat di negara-negara yang melihat Washington sebagai mitra penting dalam bidang ekonomi, keamanan, dan geopolitik.

Sekutu Lama Mulai Menjauh

Di sisi lain, citra AS justru memburuk di banyak negara sekutu tradisionalnya.

Perselisihan dagang, meningkatnya ketegangan politik, kritik terhadap NATO, kebijakan tarif terhadap Kanada dan Eropa, hingga wacana menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 AS dinilai memperburuk hubungan antarnegara Barat.

Tak hanya itu, ketertarikan Presiden Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland juga ikut menambah ketegangan di antara para sekutu.

Akibatnya, sembilan dari 10 negara dengan tingkat favorabilitas terendah terhadap AS berasal dari Eropa dan Amerika Utara, termasuk Kanada, Prancis, Jerman, dan Swedia.

Ketidakpastian arah kebijakan Washington bahkan mendorong Kanada mempererat kerja sama ekonomi dengan Eropa sekaligus meningkatkan hubungan dengan China.

China Kalahkan Sekutu Tradisional AS

Salah satu temuan paling mengejutkan dalam survei ini adalah posisi China.

Meski hubungan Washington dan Beijing masih diwarnai persaingan geopolitik yang ketat, tingkat pandangan positif terhadap AS di China ternyata lebih tinggi dibandingkan sejumlah sekutu lama Washington seperti Kanada, Belgia, dan Swedia.

Dengan kata lain, beberapa negara yang selama puluhan tahun menjadi mitra terdekat AS kini memandang Amerika lebih negatif dibandingkan rival geopolitik utamanya, yaitu China.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |