Bos Pengusaha Mebel Ungkap Ada Ide RI Impor Kayu dari AS, Untuk Apa?

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri furnitur nasional mengungkapkan proses negosiasi baru di tengah pengetatan tarif perdagangan Amerika Serikat. Skema timbal balik berbasis bahan baku dinilai bisa menjadi jalan tengah agar produk furnitur Indonesia tetap kompetitif di pasar Negeri Paman Sam. Terdapat opsi kerja sama yang dinilai sederhana namun saling menguntungkan bagi kedua negara.

"Sudah ada pembicaraan di awal dengan tim diplomasi kita, sebenarnya sederhana dan saling menguntungkan, Indonesia membeli kayu dari Amerika Serikat, lalu memproduksinya di dalam negeri menjadi produk furnitur dan kerajinan bernilai tambah tinggi," kata Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur kepada CNBC Indonesia, Jumat (6/2/2026).

Opsi tersebut bisa membawa keuntungan baik bagi Indonesia maupun AS. Karenanya penurunan kinerja ekspor ke AS masih sangat bergantung pada arah diplomasi dagang yang sedang dibangun pemerintah dan pelaku industri.

"Dari proses ini, Indonesia mendapat nilai tambah dan lapangan kerja, sementara Amerika Serikat mendapat pasar ekspor bahan baku sekaligus pasokan barang jadi berkualitas," ujar Sobur.

Pendekatan tersebut membuka ruang kompromi tarif yang lebih longgar apabila kedua negara dapat menemukan titik keseimbangan dari kedua pihak. Semakin rendah tarifnya, maka peluang ekspor bakal semakin besar.

"Jika skema ini disepakati secara seimbang, sangat logis bila tarif masuk produk Indonesia ke AS bisa diturunkan, bahkan berpeluang menuju nol persen, tentu bergantung pada kualitas diplomasi dan keseriusan kerja sama kedua negara," ujar Sobur.

Melalui kombinasi diplomasi dagang dan penguatan ekosistem industri, pengusaha berharap produk furnitur Indonesia tidak hanya bertahan di pasar ekspor utama seperti Amerika Serikat, tetapi juga mampu memperluas pasar baru dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Di sisi lain, strategi industri tidak hanya bertumpu pada jalur diplomasi formal. Pelaku usaha juga mengandalkan pameran internasional sebagai instrumen penetrasi pasar sekaligus pembentukan citra produk, termasuk IFEX yang akan kembali digelar pada awal Maret 2026.

"Pameran bukan sekadar ajang display produk, tetapi market access platform. Ia mempertemukan produsen dengan buyer global, membuka dialog langsung soal standar, tren, dan harga, serta menjadi pintu masuk kontrak jangka menengah-panjang," katanya.

Menurutnya, arah pengembangan pameran ke depan harus lebih terkurasi dan terhubung dengan ekosistem industri yang lebih luas, mulai dari pembiayaan hingga kebijakan pemerintah. Dengan begitu, efeknya dapat langsung terasa pada angka penjualan dan ekspor.

"Transformasi industri furnitur Indonesia sendiri dinilai semakin terlihat melalui peningkatan kualitas pengerjaan dan inovasi desain. Desain kini tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan faktor pembeda utama dalam persaingan global," kata Sobur.

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |