Curhat Bos Mal, Cemas Kemungkinan Terburuk Muncul Usai Libur Lebaran

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengusaha pusat perbelanjaan atau mal mengaku masih khawatir jika kinerja pusat perbelanjaan masih belum membaik di 2026, terutama setelah Lebaran 2026.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengungkapkan pada awal 2026, pengelola mal akan bekerja maksimal agar bisa meningkatkan kinerja, seiring dengan adanya hari-hari besar yang saling berdekatan di awal 2026 yakni mulai dari Imlek, kemudian Ramadan, hingga Lebaran.

"Pada saat kondisi perekonomian yang masih lesu, maka semua momentum penjualan akan dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh industri usaha ritel untuk meningkatkan kinerja setinggi-tingginya, terutama pada saat Ramadan dan Idulfitri yang akan datang yang mana adalah merupakan peak season penjualan ritel di Indonesia," kata Alphonzus kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (6/2/2026).

Di 2025, Alphonzus mengungkapkan industri mal belum maksimal dikarenakan salah satu faktor yakni daya beli masyarakat yang masih belum pulih terutama untuk kelas menengah bawah.

"Kinerja sektor ritel pada 2025 masih belum maksimal dikarenakan berbagai faktor di mana salah satu yang utama adalah faktor daya beli masyarakat yang masih belum pulih terutama untuk kelas menengah bawah," lanjutnya.

Siap-Siap Kemungkinan Terburuk

Insentif yang diberikan oleh pemerintah pada tahun lalu, menurutnya, masih bersifat sesaat dan belum berdampak secara menyeluruh ke mal-mal.

"Berbagai stimulus dan insentif yang diberikan oleh pemerintah pada tahun lalu bersifat sporadis dan sesaat yang dimaksudkan hanya untuk memastikan pencapaian maksimal pada momen - momen tertentu saja seperti Ramadan dan Idulfitri, libur sekolah, Natal dan Tahun Baru sehingga belum mampu memaksimalkan pertumbuhan sektor ritel secara tahunan," ujarnya.

Pada akhirnya, pengusaha dan pengelola mal harus bersiap adanya kemungkinan terburuk setelah Lebaran 2026. Di mana hari-hari besar setelah Lebaran cenderung berkurang dan membuat traffic mal berpotensi menurun, jika pengelola tidak menggelar kegiatan menarik dan pemerintah hanya memberikan insentif saat hari-hari besar saja.

Pada kuartal pertama 2026, ada beberapa faktor pendukung yang dapat mendorong kinerja ritel, antara lain kenaikan upah minimum, Imlek, Ramadan, dan Lebaran.

"Kuartal pertama 2026 menjadi sangat penting bagi industri usaha ritel karena akan menjadi 'pembuka' tahun 2026 yang akan mempengaruhi ataupun berdampak terhadap kinerja sepanjang 2026.," ungkapnya.

Oleh karena itu, Ia berharap pemerintah tidak hanya memberikan insentif sesaat yakni pada Imlek hingga Lebaran 2026, tetapi juga berlanjut hingga akhir 2026, sehingga kinerja mal di Indonesia dapat bertumbuh di 2026.

"Jika pada tahun ini pemerintah masih tetap memberlakukan strategi yang sama seperti tahun lalu, maka hampir dapat dipastikan kinerja sektor ritel pada tahun ini tidak akan tumbuh secara signifikan," terangnya.

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |