Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak meledaknya penggunaan AI, dampak terbesar terasa pada pekerjaan yang dilakukan manusia. Banyak PHK dilakukan oleh perusahaan dengan adopsi AI yang lebih efisien dan meningkatkan produktivitas secara signifikan.
Fenomena lain akibat penggunaan AI yang masif ini terlihat di Swiss. Mereka yang baru lulus kuliah kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Adopsi AI membuat sejumlah perusahaan tidak banyak menawarkan posisi lowongan pekerjaan junior untuk para fresh graduation di Swiss.
Riset ini melakukan penelitian pada 7,3 juta iklan lowongan pekerjaan dan survei pada lebih dari 3.600 pekerja.
Laporan portal pekerjaan Swiss, jobs.ch, menunjukkan proporsi lowongan kerja tingkat pemula diiklankan di Swiss 32% lebih rendah pada 2025 dibandingkan 2019-2022 atau disebut sebagai fase pra-AI, dikutip dari Reuters, Kamis (25/6/2026).
Pekerjaan paling terdampak karena penggunaan AI yang masif ini mulai dari bidang pemasaran, administrasi, keuangan dan IT.
Keterampilan AI juga mulai merambah di luar pekerjaan terkait bidang teknologi. Tawaran pada posisi senior untuk peranan yang terpapar AI mengalami peningkatan 26% pada 2025, sementara pegawai junior menurun 16%.
Di sisi lain, permintaan di luar ruang kantor dan penelitian tetap kuat untuk permintaan pada posisi junior. Ini terjadi pada perawatan kesehatan, konstruksi dan perdagangan yang mengalami kekurangan tenaga kerja.
Fenomena ini membuat 41% dari peserta survei berusia di bawah 25 tahun merasa khawatir. Mereka takut kehilangan nilai di tempat kerja karena AI atau yang dikenal sebagai AI FOBO (Fear of Becoming Obsolete) atau ketakutan menjadi usang.
(fab/fab)
Addsource on Google

4 hours ago
2

















































