Jakarta, CNBC Indonesia - Meskipun China dan Amerika Serikat (AS) terlibat konflik geopolitik, tetapi industri pengemudian otomatis keduanya ternyata 'rukun'. Hal ini terlihat dari kolaborasi raksasa ride-hailing asal AS, Uber, dengan pengembang sistem kendaraan otonom asal China, Pony.ai.
Uber dan Pony.ai mengumumkan rencana ekspansi besar-besaran untuk menerjunkan 2.000 unit robotaxi di kawasan Eropa dan Timur Tengah. Pengumuman yang dirilis pada Jumat (14/8) waktu setempat tersebut, menandai langkah agresif kedua perusahaan setelah sukses meluncurkan layanan robotaxi komersial pertama di Eropa, yakni di Zagreb, ibu kota Kroasia, pada akhir Maret lalu.
Melalui kemitraan teranyar ini, armada kendaraan otonom Pony.ai akan meluncur ke empat kota besar baru di Eropa. Meski begitu, kedua pihak masih merahasiakan daftar kota sasaran serta jadwal pasti peluncurannya.
Perang Ukuran Armada Demi Dominasi Pasar
Skala armada menjadi kunci vital dalam komersialisasi kendaraan otonom. Makin banyak unit yang mengaspal, makin melimpah data yang dapat dikumpulkan untuk membuktikan standar keselamatan kepada regulator, sekaligus memangkas biaya operasional.
Saat ini, Waymo yang merupakan anak usaha Alphabet, masih memimpin takhta robotaxi global dengan armada sekitar 5.000 kendaraan yang beroperasi dominan di AS.
Waymo kini mulai menguji coba layanan di London dan dilaporkan telah mendirikan entitas baru di empat negara anggota Uni Eropa. Tak hanya itu, Waymo juga membidik Tokyo untuk ekspansi globalnya.
Di sisi lain, pemain asal China seperti Baidu Apollo Go dan WeRide juga makin gencar menguji coba layanan otonom mereka di Benua Biru. Menariknya, Uber menjadi mitra strategis di balik ekspansi para raksasa China tersebut.
Sebelumnya, Uber dan WeRide telah berkolaborasi meluncurkan proyek pilot robotaxi pertama di Madrid, Spanyol, serta mengoperasikan layanan serupa di Abu Dhabi dan Dubai.
Tak berhenti di situ, anak usaha Uber di Jepang baru saja menandatangani kesepakatan dengan operator taksi lokal untuk menguji coba robotaxi di Tokyo pada akhir tahun ini.
Ambisi Uber Kuasai Data Otonom Global
Langkah Uber ini mempertegas arah bisnis perusahaan di bawah komando CEO Dara Khosrowshahi. Uber berambisi tidak hanya sekadar menjadi penyedia aplikasi ride-hailing, tetapi juga induk ekosistem kendaraan otonom dunia.
"Tujuan Uber adalah menjadi platform komersialisasi kendaraan otonom terdepan di dunia," tegas Khosrowshahi dalam laporan kinerja keuangan perusahaan.
Khosrowshahi menambahkan bahwa strategi utama Uber adalah mengumpulkan 'a super set of data', yakni kumpulan data berskala raksasa dari operasional armada globalnya. Data ini nantinya akan dibagikan kepada para mitra teknologi untuk mengakselerasi pengembangan kendaraan masa depan tersebut.
Sementara itu, pelaku pasar kini tengah mencermati laporan keuangan kuartalan Pony.ai yang dijadwalkan meluncur pada Selasa mendatang untuk melihat dampak finansial dari ekspansi agresif ini.
Kemajuan industri robotaxi ini memang merupakan inovasi canggih untuk menggenjot efisiensi dan produktivitas, tetapi juga mendatangkan dampak negatif bagi profesi driver online. Pasalnya, jika taksi-taksi sudah berjalan otomatis tanpa pengemudi, profesi itu tak lagi relevan di masa mendatang.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
3












































