Seorang warga menggendong anaknya melintasi jalan berdebu di Kecamatan Meurahdua, Kabupaten Pidie Jaya, Rabu (11/3/2026).. Debu tebal sisa lumpur banjir bandang yang mengering mulai mengganggu aktivitas dan dikhawatirkan memicu gangguan pernapasan warga. Waspada.id/ Muhammad Riza
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
PIDIE JAYA (Waspada.id): Masyarakat korban banjir hidrometeorologi di Kecamatan Meurahdua, Kabupaten Pidie Jaya (Pijay), kini menghadapi persoalan baru. Jalanan yang sebelumnya tertutup lumpur kini berubah menjadi hamparan debu tebal setelah mengering akibat cuaca panas dalam beberapa hari terakhir.
Debu sisa lumpur banjir itu kini beterbangan hampir sepanjang hari dan mulai mengganggu kesehatan warga. Namun hingga kini, respons dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie Jaya dinilai belum terlihat di lapangan.
Koordinator Aliansi Solidaritas Pemuda Pidie Jaya (ASPPJ), Dedi Saputra, Rabu (11/3/2026), mengatakan kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah, khususnya Dinas Kesehatan.
“Debu ini bukan sekadar gangguan kecil. Jika terus dihirup warga setiap hari, dampaknya bisa memicu peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan penyakit pernapasan lainnya,” kata Dedi saat meninjau sejumlah gampong terdampak banjir di Kecamatan Meurahdua.

Beberapa lokasi yang dikunjungi antara lain Gampong Dayah Usen, kawasan SD IT An-Nur Meunasah Lhok Meureudu, serta sejumlah gampong lain yang masih dipenuhi sisa lumpur banjir.
Menurut Dedi, cuaca panas membuat lumpur yang mengering berubah menjadi debu halus yang beterbangan di sepanjang jalan desa. Ironisnya, sebagian besar warga masih beraktivitas tanpa perlindungan seperti masker.
“Sebagian besar warga tidak menggunakan masker. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena memang tidak tersedia. Sampai sekarang kami juga belum melihat adanya pembagian masker atau langkah pencegahan dari Dinas Kesehatan,” ujarnya.
Kondisi tersebut diperparah dengan aktivitas pembersihan material banjir. Sejumlah alat berat seperti ekskavator masih bekerja memindahkan lumpur dan bongkahan kayu yang terbawa arus banjir.
Di sisi lain, lalu lintas truk pengangkut material sisa banjir yang melintas di jalan-jalan desa membuat debu semakin tebal dan terus beterbangan hingga ke permukiman warga.
Sejumlah warga mengaku kondisi tersebut sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Muhammad, warga Meurahdua, mengatakan debu kerap masuk ke dalam rumah setiap kali kendaraan melintas.

“Kalau siang hari debunya sangat tebal. Mobil atau truk lewat sedikit saja langsung berterbangan dan masuk ke rumah. Kami terpaksa sering menutup pintu dan jendela,” keluh Muhammad.
Keluhan serupa juga disampaikan Ani, warga lainnya yang mulai khawatir terhadap kondisi kesehatan keluarganya. “Anak-anak sekarang sering batuk sejak debu ini banyak. Kami khawatir kalau dibiarkan terus bisa menimbulkan penyakit. Tetapi sampai sekarang belum ada petugas kesehatan yang datang melihat kondisi warga,” ujar Ani.
Dedi menilai lambannya respons Dinas Kesehatan Pidie Jaya menunjukkan belum adanya langkah nyata untuk mengantisipasi dampak kesehatan pascabanjir.
“Jangan sampai pemerintah baru bergerak setelah banyak warga jatuh sakit. Pencegahan seharusnya dilakukan sejak sekarang,” tegasnya.
ASPPJ juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dengan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan.
Di sisi lain, pemerintah daerah didesak segera mengambil langkah cepat, seperti melakukan penyiraman jalan secara berkala, mendistribusikan masker kepada warga, serta mengerahkan tenaga kesehatan untuk memantau kondisi masyarakat di wilayah terdampak banjir.(id69)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.


















































