Destry Blak-blakan Alasan BI Naikkan Bunga 100 Bps dalam Sebulan

1 hour ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Deputi Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan alasan bank sentral menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin dalam sebulan hingga menyentuh level 5,75%.

Seperti diketahui, BI telah menaikkan suku bunga pada Mei sebesar 50 basis poin dan 25 basis poin pada rapat dewan gubernur (RDG) mingguan di bulan Juni. Kemudian, dalam RDG bulanan di Juni, BI kembali menaikkan 25 basis poin lagi.

Merespons keputusan tersebut, Destry menjelaskan bahwa BI sendiri memiliki tiga mandat sesuai Undang-Undang yang berlaku. Pertama adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Dalam hal ini terkait dengan nilai tukar rupiah, kalau kita bicara dengan komparasi dengan luar negeri. Kemudian juga kalau di domestik adalah inflasi," kata Destry kepada CNBC Indonesia dalam acara Economic Update 2026 dikutip Rabu (24/6/2026).

Kedua adalah menjaga stabilitas sistem keuangan dan ketiga adalah mendorong percepatan sistem pembayaran. Terkait kenaikan suku bunga sebesar 100 basis poin dalam sebulan terakhir, menurut Destry, ini adalah upaya untuk menjalankan mandat pertama.

Terlebih lagi tekanan besar dari ketidakpastian ekonomi global yang dampaknya merambat hingga domestik.

"Jadi tentunya berdasarkan kondisi yang terjadi terakhir itu, maka itu menyebabkan ya kami akhirnya berkeputusan, oke, stabilitas dalam hal ini menjadi prioritas kami pertama. Tapi tanpa juga melupakan untuk pertumbuhan," imbuhnya.

Maka dari itu, BI pun membuat tiga kebijakan, yakni moneter yang kaitannya stabilitas. Kemudian, dua kebijakan lainnya adalah kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran.

"Untuk yang kebijakan moneter, kami akhirnya menggunakan instrumen kami BI Rate, dimana dalam satu bulan ini memang kita naik sampai tiga kali naik, di total adalah 100 basis point," ujar Destry.

"Karena pertama kali naik waktu bulan Mei itu kan 50 basis point ya. Jadi ini sebenarnya untuk menunjukkan bahwa bagi Bank Indonesia sekarang dalam kondisi ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka kita harus jaga stabilitas.

Sementara itu dalam rangka menjaga pertumbuhan ekonomi, BI mengeluarkan insentif kepada bank yang mau menyalurkan kreditnya kepada sektor-sektor prioritas. Selain itu juga, melalui upaya memberikan insentif dalam kaitannya sistem pembayaran.

Destry juga menambahkan kebijakan kenaikan BI Rate selain untuk menjaga stabilitas dari rupiah dalam hal ini adalah nilai tukar rupiah, bank sentral juga berharap kenaikan ini akan meningkatkan daya tarik dari instrumen rupiah kita bagi offshore investor atau investor asing.

"Karena mereka (investor) melihat dalam situasi seperti ini, risiko perception mereka, risk premium itu akan meningkat. Oleh karena itu, mereka kalau mau investasi di negara tersebut, mereka pasti akan minta earning yang lebih baik, return yang lebih baik. Ini kita cerminkan di suku bunga yang meningkat sehingga kita berharap inflow itu akan masuk," papar Destry.

Terbukti, Destry menuturkan inflow di SBN mulai meningkat pada Juni 2026. Kemudian, inflow modal asing juga masuk ke Sertifikat Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Menurut Destry, nilainya telah mencapai Rp 103 triliun hingga Rp 105 triliun pada Juni 2026

"Jadi paling tidak dengan adanya inflow, itu akan menambah daya tahan sektor eksternal kita karena dia akan memperkuat cadangan devisa kita, dan tentunya juga kita berharap dia juga akan menambah supply valas di pasar domestik kita," katanya.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |