Aktivis mahasiswa Mandailing Natal, Rio Wahyudi
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
PANYABUNGAN (Waspada.id): Aktivis mahasiswa Mandailing Natal, Rio Wahyudi, menilai kritik Bupati H. Saipullah Nasution terkait kurangnya disiplin masyarakat dalam pembukaan tradisi Lubuk Larangan perlu diimbangi dengan konsistensi dalam tata kelola internal birokrasi, khususnya pengelolaan Aparatur Sipil Negara (ASN).
“Pernyataan soal ketidakdisiplinan masyarakat itu sah-sah saja, tetapi publik juga berhak mempertanyakan apakah pemerintah daerah sudah sepenuhnya disiplin dalam mengelola ASN,” ujar Rio, Selasa (24/03) di Kota Panyabungan.
Ia menyoroti sejumlah isu yang berkembang, antara lain mutasi ASN, pengunduran diri beberapa pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), hingga dugaan tekanan terhadap ASN tertentu untuk mengundurkan diri dari jabatan maupun lingkungan birokrasi.
Menurut Rio, jika dugaan tersebut benar, hal itu berpotensi mencederai prinsip profesionalitas dan netralitas ASN. “Jangan sampai standar disiplin hanya diberlakukan ke masyarakat, sementara di internal pemerintah sendiri masih menyisakan tanda tanya,” tegasnya.
Rio menjelaskan bahwa tradisi Lubuk Larangan merupakan simbol ketaatan terhadap aturan bersama yang diwariskan turun-temurun, sehingga nilai-nilai tersebut semestinya juga tercermin dalam kepemimpinan daerah.
Ia juga mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan transparansi terkait kebijakan strategis, khususnya menyangkut mutasi ASN dan dinamika di tubuh OPD. “Alangkah baiknya setiap pemimpin bercermin terlebih dahulu sebelum menyampaikan kritik kepada masyarakat. Dengan begitu, kepercayaan publik dapat terjaga,” tambahnya.(id100)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.


















































