Jakarta, CNBC Indonesia - Arkeolog bernama Otto Geist menemukan tulang-tulang yang diduga berasal dari gajah purba Mammoth pada 1951. Namun baru 70 tahun kemudian diketahui analisis itu salah.
Geist menemukannya dalam sebuah ekspedisi di pedalaman Alaska, wilayah geografis prasejarah yang dikenal dengan Beringia.
Dari hasil penampakannya dan lokasi tulang, Geist langsung menyimpulkan tulang belulang itu berasal dari Mammoth berbulu. Analisa itu cukup masuk akal karena wilayah temuan dan ukuran tulang belakang yang mirip dengan tulang gajah.
Kemudian, tulang-tulang itu masuk ke Museum of the North di Universitas Alaska. Baru puluhan tahun kemudian setelah museum bisa melakukan penanggalan radiokarbon ditemukan jawaban sesungguhnya.
Foto dua pelat fosil tulang paus yang sebelumnya disangka berasal dari mammoth. Foto: University of Alaska Museum of the North
Dari hasil penelitian ditemukan isotop karbon dalam tulang berusia 2.000-3.000 tahun. Artinya hidup di zaman lebih baru dibandingkan Mammoth yang telah punah 13 ribu tahun lalu.
Berikutnya mereka juga menemukan kandungan kadar isotop nitrogen-15 dan karbon-13 yang lebih tinggi dibandingkan hewan pemakan rumput seperti Mammoth berbulu.
Temuan ini memang tidak menghapuskan kemungkinan bahwa tulang berasal dari hewan darat. Namun kandungan kadar isotop yang ditemukan umumnya berada pada hewan lautan.
"Ini jadi petunjuk pertama kami bahwa spesimen tersebut berasal dari lingkungan laut," kata ahli biogeokimia Universitas Alaska Fairbanks, Mathhews Wooler dan timnya dikutip dari Science Alert, Jumat (29/5/2026).
Kemungkinan yang muncul adalah tulang tersebut berasal dari tubuh paus.
Lebih lanjut para peneliti mengekstrak DNA mitokondria, ini dilakukan untuk dibandingkan dnegan DNA paus sikat Pasifik Utara (Eubalaena japonica) dan paus minke biasa (Balaenoptera acutorostrata).
Para peneliti juga mengaku menemukan misteri berikutnya dari hasil analisis tersebut. Yakni cara sisa paus berusia 1.000 tahun ditemukan di pedalaman Alaska, yang berjarak lebih dari 400 km dari garis pantai terdekat.
Salah satu kemungkinannya adalah adanya penyerbuan paus ke pedalaman dari teluk dan sungai kuno. Namun alasan ini juga dapat dibantah karena ukuran spesies paus yang besar dan badan air wilayah yang sangat kecil.
Selain itu kemungkinan tulang-tulang diangkut oleh manusia purba dari garis pantai. Para peneliti juga tidak menutup kemungkinan adanya kesalahan ilmiah.
(dem/dem)
Addsource on Google

2 hours ago
3

















































