Dunia Tiba-Tiba Dilanda Banjir Kentang, Apa yang Terjadi?

2 hours ago 2

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

17 February 2026 12:30

Jakarta, CNBC Indonesia- Berlin sedang menghadapi apa yang dijuluki Kartoffel-Flut atau banjir kentang. Melansir The Economist, Jerman mencatat panen kentang terbesar dalam satu generasi. Hasil tahun lalu 17% di atas rata-rata jangka panjang.

Belgia, Prancis, dan Belanda mengalami lonjakan serupa. Di satu lahan dekat Leipzig, surplus mencapai 4.000 ton. Jumlahnya terlalu besar untuk diserap pasar.

Faktanya sederhana, produksi melonjak tajam. Kementerian Pertanian Jerman memperkirakan panen 2025 mencapai 13,4 juta ton, naik 5,3% dari tahun sebelumnya.

Melansir laporan yang dikutip Deutsche Welle, ini menjadi capaian tertinggi dalam 25 tahun. Harga pun tertekan. Di Agustus, harga kentang di supermarket Jerman 15% lebih rendah dibanding tahun lalu.

Ketika pasokan melebihi kapasitas serap pasar, mekanismenya jelas. Harga turun, margin petani tergerus, dan distribusi menjadi persoalan logistik.

Melansir dari The Guardian, sekitar 200 titik pembagian kentang gratis bermunculan di Berlin. Bank makanan Berliner Tafel menyerap puluhan ton. Sekolah, tempat penampungan tunawisma, hingga kebun binatang ikut mengambil bagian. Dua truk bahkan dikirim ke Ukraina.

Langkah distribusi massal ini lahir dari satu transaksi yang gagal. Seorang petani di dekat Leipzig kehilangan pembeli dalam jumlah besar di menit terakhir. Daripada membiarkan hasil panen membusuk atau dialihkan menjadi biogas, ia memilih membuka akses gratis. Operasi yang dinamai "4000 Tonnes" kemudian meluas, dibantu media lokal dan organisasi nirlaba.

Kentang memang komoditas yang relatif aman saat terjadi lonjakan produksi. Umbi ini tahan simpan dan padat kalori. Lebih dari satu miliar orang di lebih dari 150 negara mengandalkan kentang sebagai sumber pangan.

Dalam sejarah Eropa, kegagalan panen kentang pernah memicu bencana kelaparan besar di Irlandia pada abad ke-19. Di Prusia, Frederick II bahkan pernah mengeluarkan dekret wajib tanam kentang demi mencegah krisis pangan.

Namun euforia panen besar tidak merata dirasakan semua pihak. Sejumlah petani Jerman mengeluhkan pasar yang semakin jenuh. Harga yang terlalu rendah mempersempit ruang negosiasi. Kelompok lingkungan menilai pola ini mengingatkan pada era surplus pertanian Eropa dekade 1970-an, saat insentif produksi memicu "gunung mentega" dan "danau susu".

Kontras terlihat di Belarusia. Menurut laporan yang dikutip Belsat, pada 2024 harga kentang di negara tersebut melonjak 31%. Luas lahan tanam menyusut tajam dalam dua dekade terakhir, dari 467 ribu hektare pada 2005 menjadi 141 ribu hektare pada 2024. Saat Jerman kebanjiran, Belarus justru menghadapi kekurangan pasokan dan tekanan harga.

Apa implikasinya bagi pasar global? Pertama, lonjakan produksi di Eropa berpotensi menekan harga ekspor produk olahan seperti kentang beku dan keripik. Kedua, volatilitas makin terlihat sebagai pola baru, satu musim surplus, musim berikutnya defisit. Tahun lalu yang berlimpah adalah hop. Tahun depan, pelaku pasar memperkirakan susu bisa mengalami siklus serupa.

Bagi konsumen Eropa, tahun ini adalah tahun murah untuk kentang. Bagi petani, ini musim penuh kalkulasi ulang. Dunia pangan bergerak dalam siklus yang makin tajam. Ketika satu wilayah panen berlimpah, wilayah lain bisa mengalami kekosongan.

CNBC Indonesia Research

(emb/luc)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |