Ekonomi Moncer Rupiah Justru Loyo, Dolar AS Naik ke Rp16.825

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meski data pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tercatat solid.

Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan hari ini, Kamis (5/2/2026), di level Rp16.825/US$ atau terdepresiasi 0,36%. Pelemahan ini melanjutkan tekanan dari perdagangan sebelumnya, ketika rupiah melemah tipis 0,06% dan ditutup di posisi Rp16.765/US$.

Pergerakan rupiah sepanjang hari terpantau cenderung melemah. Pada pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah sudah dibuka turun 0,09% di level Rp16.780/US$, sebelum pelemahan berlanjut hingga penutupan. Sepanjang sesi, rupiah bergerak dalam rentang Rp16.775-Rp16.830/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,12% di level 97,733. Penguatan ini melanjutkan tren dari penutupan perdagangan sebelumnya, ketika DXY naik 0,18%.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah rilis data ekonomi terbaru. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal IV-2025 sebesar 5,39% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dari ekspektasi pasar.

Dengan capaian tersebut, ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tercatat tumbuh 5,11% yoy. Secara kuartalan, ekonomi tumbuh 0,86% (quarter-on-quarter/qoq).

Sebagai catatan, konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 institusi/lembaga sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan kuartal IV-2025 sebesar 5,23% yoy dan 0,72% qoq.

Namun, rupiah belum mampu memanfaatkan sentimen positif tersebut karena tekanan eksternal masih dominan, seiring penguatan dolar AS di pasar global. Indeks dolar bertahan di atas level 97,5 atau mendekati level tertingginya dalam dua pekan, di tengah penyesuaian ekspektasi pasar terhadap laju pemangkasan suku bunga The Fed yang dinilai bisa lebih lambat.

Gubernur The Fed Lisa Cook menekankan kekhawatiran pada inflasi yang progresnya dinilai tertahan, sehingga dukungan pemangkasan suku bunga cenderung menunggu tekanan harga benar-benar mereda.

Pasar juga mencermati implikasi nominasi Kevin Warsh sebagai kandidat ketua The Fed, termasuk preferensinya pada neraca bank sentral yang lebih ramping dan ekspektasi kebijakan yang tidak terlalu agresif dalam penurunan suku bunga.

Dari data ekonomi AS, laporan ADP menunjukkan pertumbuhan pekerjaan sektor swasta berada di bawah ekspektasi, sementara aktivitas sektor jasa justru melampaui perkiraan. Selain itu, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada agenda rapat kebijakan ECB dan Bank of England yang diperkirakan sama-sama menahan suku bunga, menjaga fokus pasar tetap pada arah kebijakan bank sentral global dan pergerakan dolar AS.

(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |