Jalankan Program B40, RI Ketiban Durian Runtuh Rp 20,4 Triliun di 2025

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan nilai tambah dari mandatory pencampuran bahan bakar minyak (BBM) dengan minyak kelapa sawit sebanyak 40% atau biodiesel 40% (B40) memberikan kontribusi terhadap nilai tambah hingga Rp 20,4 triliun.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan tidak hanya nilai tambah, implementasi B40 juga memberikan devisa negara hingga Rp 130 triliun.

"Ini penambahan devisanya mencapai Rp 130 triliun. Dan peningkatan untuk nilai tambahnya sebesar Rp 20,4 triliun. Dan alhamdulillah sudah menggerakkan tenaga kerja on-farm dan off-farm itu 1,8 juta bahkan hampir 2 juta orang ya," ujar Eniya dalam acara Energy Outlook 2026 CNBC Indonesia, Kamis (5/2/2026).

Eniya mengungkapkan implementasi B40 membuat Indonesia menjadi juara dunia dalam pemanfaatan bahan bakar nabati. Tidak ada negara lain yang saat ini yang dinilai mampu menerapkan campuran biodiesel hingga 40% secara komersial dan nasional seperti yang dilakukan Indonesia.

"Kita sudah juara dunia untuk Biodiesel. Tidak ada negara lain yang menerapkan 40% diesel yang mengandung bio gitu, biofuel," tambahnya.

Saat ini, pemerintah mulai melangkah ke tahap selanjutnya, yaitu B50. Eniya mengungkapkan bahwa uji coba (road test) penggunaan biodiesel 50% saat ini sedang berlangsung di lapangan, khususnya di sektor otomotif yang telah menempuh jarak 20 ribu kilometer (km) dari target 50 ribu km.

"Tahun ini masih B40, tetapi kita sekarang melakukan uji coba untuk B50 juga. Jadi 50% akan bagaimana, saat ini baru tes di lapangan. Di sektor otomotif sudah per hari ini sudah 20.000 km, jadi kita harapkan nanti sampai 50.000 km dan kita bisa dorong lagi," imbuhnya.

Masih tentang dampak implementasi B40, Eniya menyebut bahwa dengan beroperasinya Kilang RDMP Balikpapan yang mampu memproduksi solar (CN 48), Indonesia diproyeksikan bisa sepenuhnya menghentikan impor solar mulai tahun 2026 seiring dengan penerapan program biodiesel dalam negeri.

Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkapkan pemerintah tengah mempersiapkan rencana penerapan B50 untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

"Jadi, kita mengharapkan B50 tahun 2026 itu bisa diimplementasikan. Ya berarti kalau B50, ketergantungan kita terhadap energi fosil itu kan bisa dikurangi," ujar Yuliot di Jakarta, dikutip Selasa (13/1/2025).

‎Yuliot menilai penerapan B50 akan berdampak positif terhadap pengembangan energi bersih dan lingkungan sekitar. Hal ini juga sebagai bagian dari rencana pemerintah untuk mencapai net zero emission. "Justru ini menjadi lebih baik ke depan. Ini bagian kita juga untuk pencapaian net zero emission," ujarnya.

‎Menurut dia, saat ini pemerintah masih melakukan assessment untuk memastikan ketersediaan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebagai bahan baku biodiesel.

‎Terlebih, kebutuhan FAME untuk penerapan B45 diproyeksikan sekitar 17 juta kilo liter, sementara untuk kebutuhan B50 akan meningkat menjadi sekitar 19 juta kilo liter (kl). "Jadi, dari assessment ini ya kita melakukan. Ini pemetaan itu apakah itu bisa, tapi kita dorong implementasinya adalah B50 untuk tahun 2026," kata Yuliot.

(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |