Fundamental Kokoh, BRI Perkuat Kontribusi ke Ekonomi Nasional

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatatkan kinerja positif hingga Triwulan II 2026. Kondisi tersebut tercermin dari likuiditas yang memadai, struktur pendanaan yang semakin berkualitas, serta permodalan yang kokoh.

Fundamental tersebut pun menjadi landasan bagi BRI untuk melanjutkan pertumbuhan bisnis secara sehat sekaligus menjalankan fungsi intermediasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi mengungkapkan bahwa kondisi likuiditas BRI tetap terjaga pada level yang memadai. Tercatat, Loan to Deposit Ratio (LDR) konsolidasi entitas bank sebesar 90,8%, yang masih berada pada level ideal dalam menjalankan fungsi intermediasi. Sementara dari sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI pada Triwulan II 2026 tercatat sebesar 21,5%.

"Dengan likuiditas yang terkelola dengan baik dan permodalan yang tetap kuat, BRI memiliki fondasi yang memadai untuk melanjutkan pertumbuhan secara sehat dan berkelanjutan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas," ujar Achmad Royadi dalam keterangan resmi, Senin (7/9/2026).

Kondisi likuiditas BRI turut ditopang oleh struktur pendanaan yang semakin berkualitas. Hingga akhir Triwulan II 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7% secara year-on-year (yoy).

Pertumbuhan tersebut diiringi dengan peningkatan komposisi dana murah, tercermin dari rasio CASA yang meningkat dari 65,5% menjadi 67,6%.

Likuiditas yang terjaga dan struktur pendanaan yang semakin berkualitas memberikan ruang bagi BRI untuk menjalankan fungsi intermediasi secara optimal.

Di sisi lain, permodalan yang kuat memberikan kapasitas bagi Perseroan untuk mendukung ekspansi bisnis dengan tetap menjaga ketahanan terhadap risiko. Di tengah pertumbuhan tersebut, BRI tetap mengedepankan kualitas penyaluran kredit dan pengelolaan risiko secara disiplin.

Hal ini tercermin dari kualitas aset yang terus membaik, dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,07% pada 2025 menjadi 2,9% pada Triwulan II 2026. Tren tersebut sejalan dengan strategi pengelolaan risiko BRI melalui penerapan selective growth, penguatan early warning system pada segmen ritel, serta optimalisasi fungsi collection dan recovery.

Kinerja positif juga terlihat pada indikator risiko kredit yang terus membaik. Rasio Loan at Risk (LaR) turun dari 9,6% pada akhir 2025 menjadi 9,1% pada akhir Triwulan II 2026. Penurunan tersebut mencerminkan kualitas booking kredit baru yang semakin baik. Sejalan dengan itu, Cost of Credit (CoC) turun dari 3,4% pada akhir 2025 menjadi 3,1% pada akhir Triwulan II 2026.

Fundamental yang terjaga tersebut turut menopang penguatan kinerja BRI sepanjang Triwulan II 2026. Total aset BRI mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7% secara year-on-year (yoy), terutama ditopang oleh akselerasi kredit yang tumbuh 16,2% menjadi Rp1.646 triliun. Kombinasi pertumbuhan bisnis dan perbaikan fundamental tersebut turut mendorong laba bersih BRI mencapai Rp31,2 triliun atau tumbuh 17,5% yoy.

Kekuatan fundamental tersebut memberikan ruang bagi BRI untuk terus menjalankan fungsi intermediasi, terutama pada segmen UMKM yang menjadi core business Perseroan. Fokus pada UMKM tidak hanya menjadi bagian dari upaya memperluas inklusi keuangan, tetapi juga berjalan beriringan dengan dukungan BRI terhadap berbagai agenda prioritas pemerintah.

(dpu/dpu) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |