Jakarta, CNBC Indonesia - Gencatan senjata terbaru antara Israel dan kelompok Hizbullah tampaknya belum mampu menghentikan konflik di perbatasan Lebanon-Israel. Kurang dari 24 jam setelah kesepakatan gencatan senjata diumumkan, serangan udara Israel kembali menghantam wilayah Lebanon selatan dan dilaporkan menewaskan sedikitnya 11 orang.
Kantor berita resmi Lebanon melaporkan jet tempur, drone, dan artileri Israel menyerang lebih dari selusin lokasi, sebagian besar berada di sekitar Kota Nabatieh. Serangan tersebut memicu kepulan asap tebal di sejumlah wilayah Lebanon selatan pada Sabtu waktu setempat.
Militer Israel menyatakan operasi tersebut ditujukan kepada "target teroris Hizbullah" setelah kelompok bersenjata itu menembakkan lebih dari 50 proyektil ke arah pasukan Israel yang berada di Lebanon selatan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, pejabat senior Hizbullah Hassan Fadlallah menegaskan kelompoknya tetap memiliki hak untuk membalas serangan Israel.
"Yang mengkhawatirkan kami adalah bahwa musuh sepenuhnya dan secara menyeluruh menghormati gencatan senjata, dan tidak berupaya menyerang negara dan desa kami atau berusaha menduduki posisi baru apa pun," kata Fadlallah, seperti dikutip Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), Sabtu (20/6/2026).
Perkembangan terbaru ini menunjukkan rapuhnya upaya perdamaian yang tengah didorong Amerika Serikat. Washington sebelumnya mengkritik operasi militer Israel di Lebanon karena dinilai berisiko menggagalkan kesepakatan yang lebih luas dengan Iran.
Pemerintah AS juga khawatir konflik yang terus berlangsung di Lebanon dapat mengganggu implementasi kesepakatan damai dengan Teheran yang mencakup komitmen untuk menghentikan pertempuran di berbagai front, termasuk Lebanon. Iran sendiri menegaskan bahwa situasi di Lebanon harus menjadi bagian dari penyelesaian konflik secara menyeluruh.
Sebagai bagian dari upaya diplomatik tersebut, utusan khusus AS Steve Witkoff dilaporkan akan melakukan perjalanan ke Swiss untuk menggelar pembicaraan awal dengan Iran guna memperkuat implementasi kesepakatan.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan politik dalam negeri untuk terus melanjutkan operasi militer terhadap Hizbullah. Kelompok yang didukung Iran itu juga telah memperingatkan akan kembali meningkatkan serangan apabila pasukan Israel tetap melanjutkan invasi ke wilayah Lebanon selatan.
Konflik kembali memanas sejak awal Maret lalu ketika Hizbullah meluncurkan roket dan drone ke wilayah Israel sebagai respons atas serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Israel kemudian membalas dengan kampanye pengeboman besar-besaran di berbagai wilayah Lebanon dan menduduki sekitar 5% wilayah negara tersebut di bagian selatan.
Perang yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir telah memicu krisis kemanusiaan yang serius. Sekitar satu juta warga Lebanon masih mengungsi dari rumah mereka, sementara puluhan komunitas di wilayah selatan dilaporkan hancur total akibat pertempuran yang berkepanjangan.
(hsy/hsy)
Addsource on Google

4 hours ago
2

















































