Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas melemah pada akhir pekan ini seiring kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang lebih ketat.
Pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (10/7/2026), harga emas ditutup di posisi US$ 4120,08 per troy ons. Harganya melemah tipis 0,03%.
Pelemahan ini berbanding terbalik dengan lonjakan 1,1% pada Kamis sebelumnya.
Dalam sepekan, harga emas melemah 1,31%. Pelemahan pekan ini juga menjadi kabar buruk setelah harganya naik 2,12% pada pekan lalu.
"Faktor utama saat ini adalah kembali memanasnya ketegangan antara AS dan Iran. Investor secara umum enggan mempertahankan kepemilikan emas maupun perak saat ini, sehingga harga bergerak turun menuju level US$4.100," kata Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, kepada Reuters.
Eskalasi terbaru konflik antara AS dan Iran berpotensi menggagalkan proyeksi Badan Energi Internasional (IEA) mengenai surplus pasokan minyak global yang signifikan pada tahun depan.
Harga minyak brent melesat 5,4% pekan ini yang dipicu kekhawatiran terhadap pasokan setelah serangan terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kenaikan harga energi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa bank-bank sentral akan kembali menaikkan suku bunga.
Meski emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya memberikan tekanan terhadap logam mulia tersebut karena meningkatkan daya tarik aset yang memberikan imbal hasil, seperti obligasi.
"Semua indikator menunjukkan pasar mengkhawatirkan inflasi, terutama setelah harga minyak kembali menguat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini akan membuat bank-bank sentral, khususnya Federal Reserve, tetap waspada," ujar Melek.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 69% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Risalah rapat Federal Reserve bulan Juni juga menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang cenderung hawkish di kalangan pejabat bank sentral, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi yang masih tinggi.
Investor kini menantikan data inflasi AS pekan depan serta pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, guna memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter.
Di sisi lain, emas diperdagangkan dengan diskon yang cukup besar di India sepanjang pekan ini.
Sementara itu, permintaan di China tetap stabil setelah bank sentral negara tersebut melaporkan kenaikan cadangan emas bulanan terbesar dalam lebih dari dua setengah tahun pada Juni.
(mae/mae)
Addsource on Google

8 hours ago
3

















































