Susi Setiawati, CNBC Indonesia
21 February 2026 10:30
Jakarta, CNBC Indonesia — Kalau punya uang US$ 100 pada 1965, kira-kira kalian akan lebih menguntungkan disimpan di saham, emas, obligasi, atau cuma simpan cash aja? yuk kita coba bandingkan.
Merujuk pada riset Profesor Aswath Damodaran dari NYU Stern, kalau diinvestasikan ke saham, nilainya sudah berkembang sekitar 435 kali lipat sampai tahun 2025.
Sementara itu, aset lain seperti emas, obligasi, properti, dan cash memang ikut naik, tapi hasilnya jauh lebih kecil dibanding saham.
Saham dihitung berdasarkan total return S&P 500 (termasuk dividen yang diinvestasikan kembali), properti mengikuti indeks harga rumah Case-Shiller, dan cash diwakili oleh Treasury Bills AS tenor 3 bulan.
Kenapa saham bisa tumbuh paling besar?
Karena dalam jangka panjang, laba perusahaan cenderung meningkat. Dividen bisa diputar kembali, dan efek compounding membuat pertumbuhan semakin kuat dari waktu ke waktu. Tapi tentu ada konsekuensinya yaitu saham memiliki risiko dan volatilitas yang lebih tinggi. Harganya bisa naik dan turun cukup tajam.
Menariknya, sebagian besar kenaikan saham selama 60 tahun itu terjadi dalam dua periode besar:
-
1982-2000, ketika pasar naik sekitar 17 kali lipat
-
Setelah krisis 2008, yang mendorong kenaikan sekitar 10 kali lipat
Artinya, jika investor melewatkan salah satu periode tersebut, hasil akhirnya bisa jauh berbeda.
Bagaimana dengan aset lain?
Semua kelas aset pernah mengalami penurunan besar. Pada 2008, pasar saham turun sekitar 37% dalam satu tahun, namun berhasil pulih dan mencetak rekor baru dalam waktu sekitar empat tahun berkat dukungan kebijakan moneter yang agresif.
Obligasi, yang sering dianggap lebih aman, juga sempat mengalami periode terburuknya dalam beberapa dekade setelah pandemi.
Emas mengalami masa stagnasi yang panjang. Setelah mencapai puncaknya pada 1980, butuh sekitar 26 tahun hanya untuk kembali ke level yang sama. Namun setelah itu, harganya kembali naik cukup signifikan.
Properti juga butuh waktu untuk pulih setelah krisis perumahan 2008/2009 - hampir satu dekade hingga benar-benar kembali ke level sebelumnya.
Dari perjalanan panjang ini, ada satu hal yang terlihat jelas yaitu tidak ada aset yang sepenuhnya bebas dari penurunan besar. Perbedaannya terletak pada seberapa cepat aset tersebut pulih.
Oleh karena itu, dalam investasi jangka panjang, bukan hanya soal memilih aset yang tepat, tapi juga soal kesabaran dan konsistensi. Waktu sering kali menjadi faktor yang paling menentukan hasil akhir.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)

2 hours ago
5















































