Jejak "Monster Tidur" Ditemukan Dekat Gunung, Jabodetabek Perlu Awas?

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Informasi Geospasial, BPBD Kabupaten Bogor, dan PT Oseanland melakukan penelitian terhadap Sesar Cisadane di Bukit Rumpin, Kabupaten Bogor. Sesar Cisadane merupakan jenis sesar mendatar atau geser berarah Tenggara-Barat Laut yang membentang dari arah Bogor hingga Tangerang mengikuti alur sungai Cisadane.

Dalam penelitian itu, Gunung Nyungcung, yang memiliki ketinggian 240 mdpl merekam jejak Sesar Cisadane. Nama Sesar Cisadane diberikan karena patahan ini mengikuti aliran sungai Cisadane.

Penelitian tersebut menggunakan South Vtol Domino, alat yang bisa terbang dan meng-cover hingga 700 hektare sekali terbang dengan durasi lebih dari dua jam. Alat ini biasanya digunakan untuk pemetaan geologi.

Alat ini menemukan, batuan kecil yang berbentuk kubah memanjang itu tersusun dari jenis batuan travertine. Batuan jenis ini terbentuk di permukaan ketika gas karbondioksida dari air panas atau sumber mata air keluar dan menyebabkan mineral kalsium karbonat mengendap. Tim peneliti juga mengambil beberapa sampel batuan dan menemukan berbagai fosil moluska.

"Ini menjadi bukti kalau jutaan tahun yang lalu daerah ini merupakan laut dangkal. Dasar laut ini lalu terangkat oleh makro tektonik yaitu pola Sesar Baribis atau yang belakang dikenal West Java Back Arc Thrust," demikian mengutip video yang diunggah di akun Instagram Badan Geologi, Sabtu (7/2/2026).

Diperkirakan gunung tersebut dahulu saling terhubung dengan Gunung Nyuncung Rumpin. Berpisahnya kedua Ngungun disebabkan oleh sesar mendatang atau geser arah barat laut yang kemudian disebut Sesar Cisadane.

Dari penelitian tersebut ditemukan, Sesar Cisadane berpotensi aktif. Masyarakat Jabodetabek pun diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan akan potensi gempa yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Gunung Nyungcung. (Instagram/badan.geologi)Foto: Gunung Nyungcung. (Instagram/badan.geologi)
Gunung Nyungcung. (Instagram/badan.geologi)

Sesar Tua, Kenapa Harus Diwaspadai?

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menjelaskan, Sesar Cisadane merupakan sesar tua, yang terbentuk sejak kurang lebih 5 juta tahun lalu.

"Sesar Cisadane memang ada, dengan arah umum Barat laut Tenggara searah Sungai Cisadane," kata Lana kepada CNBC Indonesia, Sabtu (7/2/2026).

"Dengan adanya retakan memanjang di Gunung Panjang di dekat Sungai Cisadane (sebelah timur Sungai Cisadane) dan arah retakan tersebut sama dengan arah Sesar Cisadane (Barat Laut-Tenggara), menjadi bukti lain adanya Sesar Cisadane," tambahnya.

Di sisi lain, Lana mengatakan, sesar tersebut belum tentu aktif. Namun, dia mengingatkan perlunya kewaspadaan.

"Dengan adanya deretan rawa alami (sag pond dalam istilah tektonik geomorfologi) searah dengan retakan di Gunung Panjang, dan retakan memanjang tersebut memotong batuan Kuarter (kurang lebih 2 juta tahun lalu), perlu diwaspadai keberadaan sesar tersebut," tegas Lana.

Tetap Tenang

Di sisi lain, Lana mengingatkan, masyarakat tidak perlu panik. Warga diminta tetap tenang, mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Dan, agar tidak terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.

"Bangunan di daerah rawan gempa bumi diharapkan dapat mengikuti kaidah bangunan tahan gempa, guna menghindari risiko kerusakan, serta dilengkapi dengan jalur evakuasi," kata Lana.

Jika terjadi gempa bumi, disertai gempa susulan, dia mengingatkan masyarakat aktif melakukan pemeriksaan mandiri terkait kondisi bangunan setelah kejadian gempa. Serta, tetap mematuhi dan menjaga rambu-rambu evakuasi.

[Gambas:Instagram]

(dce/dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |