Roni Guswandi, Ketua DPRK Abdya. Selasa (14/4).Waspada.id/Syafrizal
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
BLANGPIDIE (Waspada.id): Di tengah dinamika cuaca yang semakin sulit diprediksi, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat Daya (Abdya), Roni Guswandi atau yang akrab disapa Atok Roni, menyerukan penguatan sinergi lintas sektor, sebagai kunci utama dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi.
Seruan ini disampaikan menyusul meningkatnya intensitas cuaca ekstrem, yang kerap melanda wilayah Abdya dalam beberapa waktu terakhir, kondisi yang berpotensi memicu banjir, tanah longsor, hingga angin kencang.
Atok Roni menegaskan, penanggulangan bencana tidak bisa lagi dipandang sebagai tanggung jawab satu lembaga semata. Menurutnya, keterlibatan aktif seluruh elemen, mulai dari pemerintah daerah, TNI/Polri, relawan, hingga masyarakat di tingkat, menjadi faktor penentu dalam meminimalisir risiko dan dampak yang ditimbulkan.
“Kita tidak boleh lengah. Kesiapsiagaan harus dibangun secara kolektif. Saya meminta seluruh stakeholder, dari tingkat kabupaten hingga desa, benar-benar bersinergi. Dengan koordinasi yang solid, respon saat kondisi darurat akan lebih cepat, tepat, dan efektif,” ujar Atok Roni, Selasa (14/4).
Ia kemudian merinci sejumlah langkah strategis, yang perlu segera dioptimalkan. Di antaranya, pembaruan pemetaan wilayah rawan bencana oleh dinas terkait, khususnya titik-titik rawan banjir dan longsor di setiap kecamatan.
Selain itu, optimalisasi sistem drainase menjadi perhatian serius. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) bersama masyarakat, diminta memastikan seluruh saluran air berfungsi baik dan terbebas dari penyumbatan, guna mencegah genangan saat curah hujan tinggi.
Peran aktif aparatur wilayah juga tak luput dari sorotan. Para Camat dan Kades didorong untuk lebih intensif memberikan edukasi dan imbauan kepada warga, khususnya yang bermukim di bantaran sungai dan kawasan lereng perbukitan.
Tak kalah penting, kesiapan logistik dan peralatan darurat juga harus dipastikan dalam kondisi siaga. “Ketersediaan bantuan darurat, alat berat, hingga sistem distribusi harus terencana dengan baik, sehingga tidak ada keterlambatan saat dibutuhkan,” tegasnya.
Atok Roni juga mengingatkan bahwa, ancaman hidrometeorologi merupakan fenomena yang dipengaruhi oleh berbagai parameter seperti curah hujan, kelembapan, dan kecepatan angin—yang secara rutin terjadi di wilayah pesisir barat selatan Aceh.
Dengan kondisi geografis Abdya yang mencakup kawasan pegunungan, pesisir, serta banyak aliran sungai, risiko bencana menjadi semakin kompleks. Wilayah hulu rentan terhadap longsor, sementara daerah hilir menghadapi ancaman banjir luapan. “Karakteristik geografis ini menuntut kita untuk lebih waspada dan responsif. Risiko ada di dua sisi sekaligus di hulu dan hilir,” tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Atok Roni mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, namun tidak abai terhadap potensi bencana. Ia menekankan pentingnya memantau informasi resmi dari BMKG, sebagai rujukan utama dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem. “Kesiapsiagaan yang matang adalah kunci. Dengan kolaborasi yang kuat, kita berharap keselamatan jiwa dan harta benda masyarakat Abdya dapat terjaga secara maksimal,” pungkasnya.(id82)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.


















































