Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis chip memori sedang melanda dunia di 2026. Dampaknya merembet ke mana-mana, mulai dari lonjakan harga yang memicu tekanan pada industri perangkat elektronik, hingga biaya operasional AI yang makin mahal.
Krisis chip dipicu kelangkaan akibat tingginya permintaan dibandingkan kapasitas produksi. Produsen chip berbondong-bondong memenuhi permintaan chip berkinerja tinggi untuk AI karena lebih munguntungkan. Alhasil, chip konvensional untuk perangkat elektronik dikesampingkan.
Di saat bersamaan, permintaan untuk chip AI dan chip konvensional sama-sama kencang. Hal ini menciptakan kelangkaan yang pada akhirnya berpengaruh pada banyak bisnis di sektor teknologi.
Menghadapi krisis ini, China langsung bergerak cepat. Beberapa saat lalu, dua produsen chip asal China, CXMT dan YMTC, dilaporkan akan menambah kapasitas produksi chip secara signifikan untuk mengamankan pasokan dalam negeri.
Terbaru, ByteDance yang merupakan induk TikTok dilaporkan tengah mengembangkan chip AI. ByteDance tengah berdiskusi dengan Samsung Electronics untuk menjadi rekan manufakturnya, menurut dua sumber yang familiar dengan rencana tersebut.
ByteDance menargetkan untuk menerima sampel chip pada akhir Maret, kata mereka. Perusahaan berencana untuk memproduksi setidaknya 100.000 unit chip, yang dirancang untuk tugas inferensi AI pada tahun ini, menurut salah satu sumber dan orang lain.
Salah satu sumber mengatakan ByteDance berupaya untuk secara bertahap meningkatkan produksi hingga 350.000 unit, dikutip dari Reuters, Rabu (11/2/2026).
Negosiasi dengan Samsung meliputi akses ke pasokan chip memori yang langka di tengah perkembangan masif infrastruktur AI global.
Namun, juru bicara ByteDance mengatakan informasi terkait proyek chip in-house perusahaannya tak benar. Samsung menolak berkomentar.
Proyek ini akan menandai tonggak penting bagi ByteDance, yang telah lama berupaya mengembangkan chip untuk mendukung beban kerja AI-nya. Upaya perusahaan dalam pengembangan chip ini setidaknya dimulai sejak tahun 2022, ketika mereka mulai serius merekrut staf yang terkait dengan chip.
Pada Juni 2024, Reuters melaporkan bahwa ByteDance bekerja sama dengan perancang chip AS, Broadcom, untuk mengembangkan prosesor AI canggih. Kala itu, disebutkan rencana manufakturnya melalui TSMC di Taiwan.
Raksasa teknologi AS seperti Alphabet, Amazon, dan Microsoft, telah mengembangkan chip AI secara mandiri untuk mengurangi ketergantungan dengan Nvidia.
Bagi perusahaan teknologi China, kontrol ekspor AS yang melarang penjualan chip tercanggih ke China memicu urgensi yang lebih tinggi untuk mengembangkan chip AI sendiri.
Saat ini, hanya chip H200 yang bisa dijual ke China dengan syarat berlapis. H200 merupakan chip AI tercanggih ke-2 buatan Nvidia yang beredar di pasaran saat ini.
ByteDance sejauh ini belum meluncurkan chip AI-nya sendiri. Namun, para pesaing di China seperti Alibaba dan Baidu sudah lebih dulu mengembangkan chip AI.
Bulan lalu, Alibaba memperkenalkan chip Zenwu untuk menopang kinerja AI berskala besar. Baidu menjual chip ke klien eksternal dan berencana mendaftarkan unit chip Kunlunxin buatannya dalam waktu dekat.
Proyek chip ByteDance yang diberi kode nama SeedChip merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk menyalurkan sumber daya ke pengembangan AI, mulai dari chip hingga model bahasa besar. Harapannya, teknologi ini akan mengubah portofolio bisnisnya yang mencakup video pendek, e-commerce, dan layanan cloud.
ByteDance meluncurkan Seed pada 2023 silam untuk mengembangkan model AI dan mempromosikan aplikasinya.
ByteDance berencana menghabiskan lebih dari 160 miliar yuan (Rp388 triliun) untuk pengadaan terkait AI tahun ini. Lebih dari setengahnya dialokasikan untuk membeli chip Nvidia, termasuk model H200, dan memajukan chip internalnya, kata salah satu sumber.
Eksekutif ByteDance, Zhao Qi, mengatakan kepada karyawan dalam pertemuan internal pada Januari 2026, bahwa investasi AI perusahaan akan menguntungkan semua divisi, menurut sumber keempat yang diberi tahu tentang pertemuan tersebut.
Zhao, yang mengawasi chatbot Doubao ByteDance dan versi luar negerinya, Dola, mengakui bahwa model AI perusahaan tertinggal di belakang pemimpin global seperti OpenAI. Namun, ia berjanji untuk terus mendukung pengembangan AI tahun ini, kata orang tersebut.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1















































