Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) untuk masa jabatan kedua, Donald Trump konsisten menggaungkan pentingnya pengembangan industri teknologi di dalam negeri. Salah satunya terlihat dari kebijakannya yang mendorong pembangunan manufaktur perangkat elektronik dan chip di AS, agar tak melulu 'lari' ke China.
Ambisi ini juga terlihat dari pemberlakuan tarif tinggi untuk impor barang dari berbagai negara di seluruh dunia, yang kemudian memicu gejolak ekonomi. Beberapa perusahaan teknologi lantas menggelontorkan investasi di AS, baik berupa manufaktur maupun fasilitas data center.
Data dari S&P Global Market Intelligence beberapa saat lalu menunjukkan peningkatan signifikan terkait kesepakatan data center di AS dan Kanada, yang secara total mencapai US47,17 miliar sepanjang 2025. AS menjadi pemain global yang meraup 45%-48% operasional data center di dunia.
Namun, investasi jumbo untuk pembangunan data center dihantui krisis besar terkait listrik dan air. Pasalnya, data center canggih membutuhkan energi listrik yang besar untuk menjalankannya, serta asupan air dalam jumlah banyak untuk mendinginkannya.
Di tengah dilema tersebut, pemerintah Trump dilaporkan akan kembali mengeluarkan perintah yang bisa merogoh kocek lebih bagi para raksasa teknologi. Dikutip dari Reuters dari laporan Politico, Selasa (10/2/2026), pemerintah Trump meminta perusahaan-perusahaan teknologi berkomitmen pada perjanjian baru terkait AI, menurut dua pejabat pemerintahan.
Menurut laporan tersebut, draf perjanjian menetapkan komitmen untuk memastikan bahwa data center tidak menaikkan harga listrik rumah tangga, membebani pasokan air, atau merusak jaringan energi.
Selain itu, kebijakan tersebut juga menetapkan bahwa perusahaan yang mendorong permintaan harus menanggung biaya infrastruktur baru.
Politico menyebut perjanjian yang diajukan itu bisa berubah sewaktu-waktu sebelum final.
Harga Listrik Naik Gila-gilaan
Sebelumnya, Reuters melaporkan pembangunan data center yang digadang-gadang sebagai 'harta karun' baru di era AI, ternyata berpengaruh besar pada tarif listrik. Dilaporkan bahwa harga listrik melonjak drastis di wilayah Virginia, AS, yang menampung data center terbesar dunia.
Reuters melaporkan tarif listrik sempat berubah drastis mencapai US$1.800 AS per MWh, jauh lebih tinggi dibanding US$200 dolar AS per MWh sehari sebelumnya. Kenaikan ini juga disokong oleh cuaca musim dingin yang meningkatkan permintaan listrik.
PJM Interconnection, yang melayani 67 juta penduduk di kawasan Timur dan Mid-Atlantik, memproyeksi permintaan listrik musim dingin dapat mencapai rekor 147,2 GW, didorong kebutuhan data center dan cuaca dingin berkepanjangan, melampaui rekor Januari 2025 sebesar 143,7 GW.
Sementara itu, PJM melaporkan gangguan pembangkit listrik meningkat tajam di sepanjang kawasan timur AS akibat keterbatasan pasokan gas alam dan cuaca membeku yang menekan kapasitas listrik.
Mereka mencatat hampir 21 gigawatt pembangkit listrik mengalami gangguan atau setara 16 persen dari permintaan siang hari sebesar 127,4 GW.
PJM mengeluarkan perintah pra-darurat yang mewajibkan sebagian pelanggan dalam program pengurangan beban untuk menekan konsumsi listrik.
Program ini memberi kompensasi kepada pelanggan yang mengurangi penggunaan listrik pada periode kritis, sekaligus membantu PJM meredam lonjakan permintaan dan menjaga ketersediaan pembangkit menghadapi cuaca lebih dingin pada pekan berikutnya.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
3
















































