Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mengungkapkan fakta yang cukup mengejutkan terkait keberadaan perusahaan nuklir asal Amerika Serikat bernama Thorcon. Menurut dia, Pemerintah Amerika Serikat tidak mengenal perusahaan nuklir bernama Thorcon yang selama ini aktif melakukan sosialisasi proyek di Indonesia.
Hal tersebut ia ungkapkan usai menerima kunjungan Duta Besar Amerika Serikat, yang salah satunya membahas program FIRST, program inisiatif pemerintah AS untuk memperkenalkan teknologi Small Modular Reactor (SMR) ke sejumlah negara.
Dalam kesempatan itu, Bambang lantas meminta penjelasan terkait keberadaan dan aktivitas Thorcon di Indonesia. Pasalnya, perusahaan tersebut terlalu gencar melakukan sosialisasi sehingga berpotensi menimbulkan gesekan di masyarakat.
Ia lantas meminta penjelasan kepada Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) terkait pihak yang selama ini memfasilitasi aktivitas Thorcon di Indonesia. Mengingat, dari pihak pemerintah AS sendiri, Thorcon tidak dikenal sebagai perusahaan pembangun maupun operator PLTN.
"Sebetulnya dari BAPETEN siapa yang selama ini memfasilitasi Thorcon ini. Karena Thorcon ini setelah kami tanya kepada Kedutaan Besar Amerika, pertama, mereka tidak mengenali perusahaan ini sebagai perusahaan pembangun atau operator daripada PLTN," kata Bambang dalam RDP bersama Pelaksana Tugas Kepala BAPETEN, Selasa (10/2/2026),
Menurut dia, pemerintah AS justru lebih mengenal pengembang SMR lainnya seperti NuScale Power, yang juga memiliki rencana pembangunan PLTN di Indonesia. Bambang pun menegaskan bahwa DPR tidak mendukung atau menolak perusahaan tertentu.
Hanya saja, ia mengingatkan agar BAPETEN tidak menjadi perantara bagi pihak asing dalam memfasilitasi perusahaan riset yang belum siap berkembang menjadi pengembang, sehingga Indonesia tidak dijadikan sebagai proyek percontohan.
"Menurut kami ini bisa menjadi skandal kalau kemudian Bapeten memfasilitasi perusahaan yang tidak kompeten, yang belum memiliki izin apapun, tidak memiliki izin license to design, belum memiliki izin license to construct, belum memiliki izin license to operate, gimana mau operate, gimana mau construct kalau design pun belum jelas," kata Bambang.
Teknologi Thorium Belum Terbukti Secara Komersial
Pada kesempatan itu, Bambang menegaskan bahwa teknologi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) berbasis thorium hingga saat ini belum terbukti beroperasi secara komersial di tingkat global.
Hal tersebut ia sampaikan usai menyinggung aktivitas perusahaan nuklir asal Amerika Serikat yakni Thorcon, yang dinilai terlalu agresif melakukan sosialisasi proyek di Indonesia.
"Pak, saya sudah tanya ke mana-mana, Pak, termasuk yang dari Rusia, termasuk juga yang dari Cina. Di dunia ini, yang sudah masuk ke grid itu belum ada satupun, yang dari Thorium," ujar Bambang.
Ia lalu mencontohkan di China, saat ini hanya memiliki reaktor thorium berkapasitas kecil sekitar 2 megawatt dan belum terhubung ke jaringan. Oleh sebab itu, menurutnya rencana pembangunan SMR thorium berkapasitas 250 megawatt di Indonesia tidak sejalan dengan perkembangan global.
Bambang lantas menilai bahwa perusahaan seperti Thorcon baru sebatas menawarkan konsep dan gagasan, namun sudah berambisi membangun pembangkit nuklir di Indonesia.
"Ini perusahaan baru menjual ide dan gagasan, tetapi sudah tiba-tiba mau bangun PLTN. Nuklir ini adalah sesuatu energi masa depan kita. Kami tidak mau rusak gara-gara hal-hal seperti ini.
Itu maksud saya," katanya.
(ven/wur)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
1
















































