Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
13 February 2026 07:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia sedang menghadapi persoalan pasar kerja yang bergerak pelan tetapi dampaknya bisa menjadi bom waktu. Di satu sisi, bonus demografi akan mendorong lonjakan angkatan kerja baru. Di sisi lain, kualitas pekerjaan yang tersedia tidak selalu ikut naik, bahkan banyak yang terserap ke sektor rapuh tanpa perlindungan. Kondisi ini membuat penciptaan kerja kembali jadi isu mendesak yang perlu dicarikan solusi.
Ajay Banga, Presiden World Bank Group, menyoroti tantangan yang sedang berpotensi terjadi pada negara-negara berkembang.
Dalam 10 hingga 15 tahun ke depan, sekitar 1,2 miliar anak muda di negara berkembang akan memasuki usia kerja. Namun, dengan tren saat ini, ekonomi negara tersebut diperkirakan hanya mampu menciptakan sekitar 400 juta pekerjaan pada periode yang sama, sehingga menyisakan kesenjangan yang sangat besar.
Banga menilai isu ini sering diperlakukan sebagai tantangan pembangunan, padahal juga tantangan ekonomi dan makin menjadi tantangan keamanan nasional.
Jika investasi pada manusia dan menghubungkan mereka ke pekerjaan produktif dilakukan lebih awal, generasi baru ini dapat menjadi fondasi pertumbuhan dan stabilitas. Jika tidak, konsekuensinya dapat berupa tekanan pada institusi, migrasi tidak teratur, konflik, hingga meningkatnya ketidakamanan ketika anak muda meraih jalan apa pun yang tersedia untuk bisa bertahan hidup.
Solusi: Tiga Pilar Penciptaan Lapangan Kerja
Untuk mencegah kesenjangan itu berubah menjadi krisis, World Bank Group mendorong strategi penciptaan kerja melalui tiga hal.
1. Membangun Infrastruktur Dasar dan Kualitass SDM
Pilar pertama adalah membangun infrastruktur dasar sekaligus meningkatkan kualitas SDM. Tanpa pasokan listrik yang andal, transportasi, pendidikan, dan layanan kesehatan, investasi swasta dan lapangan kerja sulit terwujud.
Banga mencontohkan pusat keterampilan di Bhubaneswar, India, yang didukung kemitraan pemerintah dan sektor swasta, melatih hampir 38.000 orang setiap tahun. Karena pelatihannya diselaraskan dengan kebutuhan pasar, hampir seluruh lulusannya mendapatkan pekerjaan atau bahkan menciptakan pekerjaan mereka sendiri.
2. Menciptakan Iklim Usaha yang Ramah
Pilar kedua adalah menciptakan iklim usaha yang ramah. Aturan yang jelas dan regulasi yang dapat diprediksi menurunkan ketidakpastian dan meningkatkan kemudahan berbisnis. Penciptaan lapangan kerja dalam skala besar pada akhirnya bergantung pada sektor swasta, terutama pada skala bisnis mikro, kecil, hingga menengah (UMKM) yang menciptakan sebagian besar lapangan kerja.
3. Membantu Bisnis Meningkatkan Skala Usaha
Pilar ketiga adalah membantu bisnis untuk meningkatkan skala melalui pembiayaan, penjaminan, dan perlindungan risiko. Banga menyebut contoh penjaminan pembiayaan perdagangan yang mendukung Banco do Brasil dan membuka sekitar US$700 juta pendanaan terjangkau bagi usaha kecil di Brasil, terutama di sektor pertanian.
Banga juga menekankan fokus pada sektor yang paling konsisten menciptakan lapangan kerja dalam skala besar, yakni infrastruktur dan energi, agribisnis, layanan kesehatan primer, pariwisata, serta manufaktur bernilai tambah.
Ketika Dunia Tidak Mampu Menyediakan Pekerjaan Layak
Gambaran Ajay Banga soal kesenjangan lapangan kerja global bertemu dengan satu realita lain yang makin kentara, membengkaknya sektor informal.
Fenomena meningkatnya tenaga kerja informal tidak hanya dihadapi di Indonesia tetapi juga dunia. Pekerja informal adalah para pemeran yang tak tercatat dalam daftar resmi, tetapi justru menopang perekonomian. Mereka hadir tanpa jaminan sosial, tanpa kontrak tetap, namun tetap memegang peran krusial di rantai produksi.
Menurut laporan World Employment and Social Outlook dari ILO edisi Mei 2025, lebih dari 2 miliar orang di dunia bekerja di sektor informal, mewakili 57,8% dari total pekerja global.
Dalam satu dekade terakhir, pekerjaan informal justru tumbuh 13,7% secara global, lebih cepat daripada pertumbuhan pekerjaan formal 12,6%.
Di Afrika, pertumbuhannya mencapai 29,3%, sementara di negara-negara Arab mencapai 36,1%, angka ini menunjukkan betapa krusial namun rapuhnya posisi pekerja informal di pasar tenaga kerja saat ini.
Indonesia pun tak lepas dari pusaran ini. Berdasarkan laporan BPS November 2025, hanya 42,3% pekerja Indonesia yang berada di sektor formal, sementara sisanya bekerja sebagai buruh lepas, pedagang kaki lima, pekerja keluarga tidak dibayar, hingga pengemudi ojek online tanpa kontrak tetap. Dari total 155,27 juta angkatan kerja yang aktif, mayoritas justru menggantungkan hidup pada ketidakpastian status kerja.
Tantangan ini makin rumit karena kebutuhan keterampilan berubah cepat, sementara mismatch pendidikan masih tinggi.
Laporan ILO menunjukkan di 59 negara hanya 47,7% pekerja yang pendidikannya sesuai dengan pekerjaannya, dan lebih dari 33,4% masih under-educated.
Lebih jauh, pekerja informal juga tidak menikmati kemajuan produktivitas yang terjadi secara global. Data ILO menunjukkan produktivitas global tumbuh 17,9% pada 2014-2024, sementara pekerjaan informal tumbuh tanpa dukungan peningkatan produktivitas yang memadai.
Artinya, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis melahirkan pekerjaan layak, karena sebagian tenaga kerja justru terserap di sektor berupah rendah, minim perlindungan, dan rentan.
Dalam konteks Indonesia, tingginya pekerja informal bukan sekadar cerita kerentanan ekonomi, tetapi juga ancaman bagi transformasi struktural.
Ketika sektor digital dan ekonomi hijau digembar-gemborkan sebagai masa depan, realita menunjukkan pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, tiga sektor yang paling banyak diisi pekerja informal dan lulusan SD ke bawah.
Jika dunia terus bergerak menuju pekerjaan berkualitas, ke mana arah Indonesia. Apakah tetap membiarkan generasi muda menunggu pekerjaan ideal sambil terseret dalam jebakan kerja rapuh dan upah minim. Atau ini saatnya pembangunan tenaga kerja diarahkan ulang, dari sekadar menyerap menjadi memuliakan pekerja lewat formalitas, perlindungan, dan pengakuan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

3 hours ago
1
















































