Jakarta, CNBC Indonesia - Pernah dengar wisata langit malam? Pastinya masih asing bagi orang Indonesia. Wisata langit malam atau Astrowisata memang belum dikembangkan serius di Indonesia. Biasanya wisata identik dengan kegiatan yang bernuansa keindahan alam seperti sungai, gunung, laut dan lainnya pada siang hari.
Nah, kini ada gebrakan baru dari para pemuda sadar wisata di Bandung Selatan, Jawa Barat, tepatnya Desa Wisata Alamendah. Bersama para akademisi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), mereka menginisiasi sebuah gagasan unik dan kreatif soal wisata langit malam.
Wisata langit malam tak melulu soal pengamatan benda luar angkasa dengan teleskop, yang menampilkan gambar-gambar spektakuler dari alam semesta yang teramati manusia. Namun, juga bisa memadukan kearifan atau pengetahuan lokal budaya Sunda terkait benda langit dan sejenisnya. Sehingga bisa menarik para wisatawan yang selama ini hanya menganggap wisata langit sangat berat pada kegiatan pengamatan bulan, matahari, atau planet saja.
CNBC Indonesia berkesempatan melihat langsung geliat wisata langit ini. Pada Minggu pagi (14/6/2026) di Balai Desa Alamendah, berlangsung kegiatan pelatihan astrowisata bagian dari Program Pengabdian Masyarakat Desa Binaan UPI yang diikuti oleh para pemuda sadar wisata. Para pemateri merupakan ahli di bidang pariwisata dan astrofisika UPI, antara lain Dr. Fitri Rahmafitria, Dr. Yudistira Aria Utama, Cahyo Puji Asmoro, Armanda Redo Pratama, dan Widyastuti.
Wisata Astronomi Alamendah Bandung menggerakkan ekonomi. (CNBC Indonesia/Suhendra) Foto: (CNBC Indonesia/Suhendra)
Dalam paparannya, Fitri Rahmafitria mengatakan astrowisata merupakan hal baru di Indonesia, perlu dapat perhatian serius dari dunia kampus agar bisa memberikan ilmu dan pengalaman praktis demi menghadirkan konsep pengalaman wisata langit yang edukatif, aman, menarik dan mengandung unsur unik dari masing-masing wilayah khususnya Alamendah. Semua hal ini perlu sumber daya manusia atau pemandu yang terlatih, sehingga bisa memberikan story telling yang benar dan menarik bagi wisatawan.
"Dengan para pemandu yang terlatih, maka para wisatawan astrowisata tak hanya melihat sebuah benda atau fenomena, tapi ada yang bisa menjelaskan apa makna di baliknya," kata Fitri.
Cahyo Puji Asmoro dalam paparannya menjelaskan pentingnya menekan polusi cahaya yang saat ini sudah menjadi persoalan di berbagai kota besar di Indonesia, termasuk Bandung, sehingga untuk melakukan pengamatan benda langit dengan mata telanjang sudah makin sulit. Untuk itu daerah seperti Alamendah yang berada di lerang Gunung Patuha, tingkat polusi cahanyanya masih bisa ditolerir untuk kegiatan pengamatan benda langit dengan mata telanjang atau teleskop.
Saat ini memang wilayah Kupang di NTT dan sekitarnya memiliki polusi cahaya yang rendah. Sehingga dijadikan lokasi Observatorium Nasional Timau (OPNAS), fasilitas astronomi terbesar di Asia Tenggara yang terletak di kaki Gunung Timau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Wisata Astronomi Alamendah Bandung menggerakkan ekonomi. (CNBC Indonesia/Suhendra) Foto: (CNBC Indonesia/Suhendra)
Ia juga menekankan bahwa astrowisata bisa dipadukan dengan pengetahuan lokal seputar pembacaan benda-benda langit yang biasanya sudah disampaikan turun temurun bagi masyarakat Sunda yang sudah mengenal soal konsep waktu, dan pembacaan benda langit untuk penanda waktu maupun untuk kegiatan pertanian dan lainnya.
Demi Geliat Ekonomi Desa
Wendi salah satu pionir Desa Wisata Alamendah, selalu mengedepankan Metode pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yaitu pendekatan interdisipliner yang menggabungkan keempat disiplin ilmu tersebut ke dalam satu pengalaman belajar yang kooperatif khususnya di desa wisata Alamendah. Sehingga pengunjung wisata tak hanya tahu soal benda dari tradisi masyarakat, bentang alam seperti sawah, sungai, tapi banyak aspek sains yang bisa dijelaskan.
Ia juga mengatakan pengelolaan wisata berbasis desa wisata dengan kolaborasi dengan BUMDES sudah sangat berjalan baik di Alamendah. Dukungan pemerintah desa dan warga sangat menentukan.
"Paket wisata di tempat kami biasanya justru saat weekday, dan kami pun melibatkan banyak unsur masyarakat termasuk para pemilik homestay, pemandu wisata dan lainnya. Kami pun rutin menyetorkan PAD bagi desa dari kegiatan wisata," katanya.
Rudi salah satu pengurus Desa Wisata Alamendah bercerita, pendekatan kolaborasi dengan warga berhasil menciptakan ekosistem wisata yang sehat. Dengan konsep desa wisata, memungkinkan bahwa warga tak hanya jadi objek wisata tapi mereka juga sebagai subjeknya.
Ia bercerita, bila konsep wisata langit atau Astrowisata kian sukses berjalan di Alamendah, maka perputaran ekonomi warga makin kencang. Ia mencontohkan selama ini skema bagi hasil antara pengelola wisata dan warga, sudah cukup adil, biasanya warga mendapatkan bagian 80% dan pengelola 20%. Dari sistem ini, roda ekonomi warga berputar, dan tercipta pemasukan ekonomi bagi pengelola atau pemandu wisata.
"Sekarang ini banyak warga yang ramai-ramai mendaftarkan homestay," kata Rudi.
(hoi/hoi)
Addsource on Google

5 hours ago
4

















































