Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
06 February 2026 19:10
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar makanan kesehatan global menemukan primadona baru, jamur.
The Economist melaporkan dalam dua tahun terakhir, jenis-jenis seperti lion's mane, reishi, cordyceps, dan maitake muncul di luar dapur, masuk ke kopi, cokelat, minuman mocktail, hingga suplemen bubuk.
Brightfield Group mencatat penyebutan lion's mane di Reddit, TikTok, dan Instagram meningkat lebih dari tiga kali lipat. Pencarian kata kunci "mushroom coffee" di Google melonjak 1.000% sejak 2022. Tren ini berkembang cepat dan lintas kanal.
Lonjakan permintaan segera direspons industri. Produk berbasis jamur kini tersedia luas di ritel modern.
Marks & Spencer menjual latte vanilla berbahan lion's mane dan jus buah. De Soi mencampurkan reishi ke dalam minuman yang dipasarkan sebagai penenang suasana hati. Spacegoods menawarkan bubuk "all-in-one" dalam berbagai rasa.
Produsen cokelat jamur seperti Alice memasarkan varian dengan klaim fungsi spesifik, dari kualitas tidur hingga peningkatan gairah.
Mekanisme di balik tren ini bertumpu pada narasi fungsi biologis.
Jamur tertentu dipromosikan sebagai adaptogen yang membantu tubuh menghadapi stres dan nootropik yang diklaim mendukung fungsi kognitif.
Media sosial berperan besar dalam menyederhanakan pesan tersebut menjadi tips praktis harian. Produk dikemas sebagai solusi cepat untuk energi, fokus, ketenangan, dan produktivitas, selaras dengan minat generasi muda yang sadar kesehatan.
McKinsey mencatat kelompok muda paling tertarik mencoba produk pangan yang menjanjikan peningkatan energi, kesehatan pencernaan, dan imunitas.
Karena dipasarkan sebagai makanan, produk ini berada di area regulasi yang longgar. Kandungan aktif dengan klaim fungsional tidak melalui standar uji klinis setara obat. Jalur ini mempercepat komersialisasi, sekaligus membatasi verifikasi manfaat.
Dari sisi sains, bukti yang tersedia masih terbatas. Nicholas Money, profesor di Miami University, Ohio, menilai tidak ada bukti klinis yang menunjukkan minuman jamur memberikan efek seperti yang diklaim pada manusia.
Studi yang ada lebih banyak bersifat pra-klinis. Ekstrak kimia lion's mane terbukti mendorong pertumbuhan sel saraf di cawan Petri dan membantu pemulihan sistem saraf pada tikus. Temuan tersebut membuka kemungkinan riset lanjutan, namun belum cukup untuk menyimpulkan dampak pada daya pikir manusia.
Profesor Money menyoroti minimnya pendanaan penelitian di bidang ini. Ia menilai, jika efek kognitif jamur terbukti kuat pada manusia, industri farmasi akan bergerak agresif. Absennya arus modal besar dari sektor tersebut memperlihatkan jarak antara klaim pasar dan konsensus ilmiah.
Implikasinya, pasar wellness berbasis jamur tumbuh lebih cepat dibanding basis evidensinya. Konsumen membeli manfaat yang belum terkonfirmasi, sementara produsen bergerak di ruang abu-abu regulasi.
Pada akhirnya, jamur tetap memiliki tempat kuat sebagai bahan pangan. Shiitake lazim di sup dan semur Asia. Lion's mane dikenal bertekstur padat dengan rasa menyerupai lobster saat ditumis. Nilai kulinernya jelas dan teruji.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)

3 hours ago
5
















































