Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa semikonduktor asal Amerika Serikat (AS), Nvidia, kini tengah berada di posisi terjepit. Menjadi salah satu korban paling terdampak dari perang dingin geopolitik antara Washington dan Beijing, pangsa pasar Nvidia di China kini dilaporkan boncos hingga menyentuh angka efektif nol persen.
Padahal, Negeri Tirai Bambu sebelumnya merupakan salah satu lumbung pendapatan terbesar bagi perusahaan yang dinakhodai Jensen Huang tersebut.
Meski pemerintahan Donald Trump belakangan mulai melunak dengan memberikan lampu hijau untuk ekspor chip canggih H200 ke China, Beijing tampaknya masih 'jual mahal'. Hingga kini, pemerintah China belum memberikan izin formal agar chip tersebut bisa melenggang masuk ke pasar domestik mereka. Akibatnya, penjualan chip H200 di China macet total selama berbulan-bulan.
Kondisi kritis ini memaksa Nvidia memutar otak. Dilansir dari Reuters, demi menghidupkan kembali bisnisnya yang merosot tajam, Nvidia kini dilaporkan mulai 'memohon' dan merayu klien-klien kakapnya di China untuk beralih ke produk baru mereka, yakni chip Vera.
Chip Vera merupakan prosesor mandiri pertama Nvidia yang dirancang khusus untuk teknologi agentic AI (sistem kecerdasan buatan otonom). Chip untuk data center ini diklaim memiliki performa 1,8 kali lebih ngebut dibanding kompetitornya.
Nvidia bahkan dikabarkan sudah memberikan pengumuman kepada para klien di China bahwa chip Vera akan tersedia paling cepat Agustus 2026, dan keran pemesanan sudah dibuka sejak sekarang. Langkah agresif ini sewajarnya diambil mengingat peta persaingan makin sengit, di mana para rival abadi seperti Intel dan AMD juga sedang berlomba-lomba mengamankan kue pasar data center AI.
Sinyal positif sempat berembus. Beberapa raksasa teknologi China dikabarkan mulai melirik chip anyar ini. Salah satu perusahaan cloud besar di China bahkan berencana menguji coba dengan memesan lebih dari 300 server, di mana masing-masing server akan menampung dua CPU Vera.
CEO Nvidia Jensen Huang sebelumnya juga sempat sesumbar saat merilis Vera pada Maret lalu. Ia memproyeksikan chip ini akan menjadi mesin uang baru bernilai miliaran dolar bagi perusahaan. Huang menyebut raksasa teknologi China sekelas Alibaba dan ByteDance berkomitmen penuh untuk mengadopsi teknologi Vera.
Namun, apakah ketertarikan ini akan berujung pada pembelian skala besar masih menjadi tanda tanya besar. Nvidia harus menghadapi tembok tebal, mulai dari masalah kompatibilitas software hingga keengganan perusahaan China untuk bermigrasi dari chip AI domestik yang saat ini gencar mereka kembangkan.
Apalagi, harga chip ini tidak murah. Berdasarkan data SemiAnalysis, satu prosesor Vera dibanderol di atas US$ 20.000 atau sekitar Rp 356 juta (asumsi kurs Rp 17.838/US$). Sementara untuk satu rak penuh berisi 256 chip bisa menembus US$ 10 juta atau setara Rp 178 miliar.
Nvidia sendiri menargetkan bisa meraup pendapatan jumbo hingga US$ 20 miliar (Rp 356 triliun) dari penjualan chip Vera pada akhir tahun fiskal ini di Januari mendatang. Namun, dengan sikap China yang masih dingin, target tersebut tampaknya harus diperjuangkan mati-matian oleh Jensen Huang dan kolega.
Sampai berita ini diturunkan, pihak Nvidia menolak memberikan komentar resmi. Setali tiga uang, Alibaba dan ByteDance juga kompak bungkam dan tidak merespons permintaan konfirmasi.
(fab/fab)
Addsource on Google

7 hours ago
1
















































