Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
09 August 2026 14:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Berpergian ke luar negeri tentunya membutuhkan persiapan yang cukup besar, karena tidak hanya terkait dana saja, tetapi hal-hal lainnya. Bahasa yang perlu dikuasai, meski umumnya bahasa Inggris saja sudah cukup, paspor, dan lainnya.
Tak hanya itu saja, berpergian ke luar negeri, baik untuk berlibur maupun kegiatan lainnya, juga perlu mengetahui kondisi negara yang akan dikunjungi.
Kali ini tidak membahas soal negara-negara yang dianggap paling aman dikunjungi, tetapi negara yang penduduknya sering melancong ke luar negeri.
Berdasarkan laporan riset dari Pew Research Center, dari 24 negara yang disurvei, penduduk yang sering melancong ke luar negeri mayoritas berada di benua Eropa, dengan Belanda dan Swedia mencatatkan persentase nyaris 100%, yakni 99%.
Artinya, hampir semua penduduk di Belanda dan Swedia pasti melakukan perjalanan ke luar negeri, baik untuk mengenyam pendidikan atau sekadar berlibur.
Jerman berada di urutan berikutnya dengan 96%, sementara 94% orang dewasa di Inggris telah bepergian ke luar negeri.
Negara-negara dengan ekonomi berpendapatan tinggi menduduki 10 besar posisi teratas dalam peringkat tersebut, menunjukkan hubungan yang jelas antara tingkat pendapatan dan pengalaman perjalanan internasional.
Namun di beberapa negara lainnya, tercatat hanya sedikit penduduk dewasa yang melakukan perjalanan global. India mencatatkan paling sedikit yakni hanya 3% saja yang penduduknya sudah melakukan perjalanan internasional.
Di Indonesia sendiri, tercatat hanya 6% yang sudah melakukan perjalanan internasional. Sebanyak 92% responden di Indonesia mengaku belum pernah meninggalkan negara asalnya. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi kedua dunia setelah India yang mencapai 95%.
Jepang merupakan pengecualian yang patut diperhatikan di antara negara-negara dengan ekonomi berpendapatan tinggi. Sekitar 65% orang dewasa Jepang telah bepergian ke luar negeri, dibandingkan dengan lebih dari 90% di beberapa negara Eropa.
Negeri Sakura juga memiliki pasar pariwisata domestik yang besar dan jarak geografis yang lebih jauh dari banyak destinasi internasional.
Pew Research Center menjelaskan terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi rendah atau tingginya mobilitas internasional suatu negara. Faktor tersebut meliputi tingkat pendapatan masyarakat, kekuatan paspor, persyaratan visa, infrastruktur transportasi, letak geografis, hingga kebiasaan bepergian yang terbentuk secara historis.
Di banyak negara berkembang, perjalanan ke luar negeri masih dianggap sebagai pengeluaran besar sehingga belum menjadi bagian dari aktivitas rutin masyarakat. Tak hanya mengukur pengalaman perjalanan, survei ini juga meneliti keinginan masyarakat untuk bepergian ke negara lain.
Kenya menjadi negara dengan tingkat aspirasi perjalanan tertinggi. Sebanyak 81% responden di negara tersebut mengatakan ingin mengunjungi negara lain jika memiliki kesempatan.
Kendati begitu, sebagian masyarakat di sejumlah negara ternyata tidak memiliki minat untuk bepergian ke luar negeri meski kesempatan tersedia. Di Indonesia, sebanyak 27% responden yang belum pernah bepergian ke luar negeri mengatakan mereka tetap tidak ingin mengunjungi negara lain meski memiliki kesempatan.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Brasil yang mencapai 24%, namun sedikit lebih rendah dibandingkan India yang sebesar 29%.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(chd)

4 hours ago
3

















































