Tangerang, CNBC Indonesia - Sentra tekstil di Cipadu, Tangerang Banten semakin sepi ditinggal pembeli, di mana sepinya kawasan tersebut terjadi setelah pandemi Covid-19. Bahkan, sepinya pembeli membuat omzet pedagang yang mayoritas menjual bahan kain turun. Begitu juga jumlah barang yang terjual juga turun drastis.
Fikar, pedagang bahan kain untuk pakaian seperti seragam, kemeja, dan kaos pun mengaku kini hanya bisa menjual tiga rol bahan kain per harinya. Padahal dahulu sebelum Covid-19, Ia bisa menjual hingga 10 rol tiap harinya.
"Saking sepi pembeli, per hari hanya bisa jual paling banyak 3 rol aja, dulu bisa 10 rol, sekarang sudah enggak bisa," kata Fikar saat ditemui CNBC Indonesia beberapa waktu lalu.
Omzet penjualan bahan kainnya pun turun hingga 50%. Kini, dalam sehari saja, hanya dapat Rp 10 juta, dari sebelumnya bisa mencapai Rp 30 juta.
"Sekarang ya kalau ramai paling banyak Rp 10 juta, kalau sepi, ya pernah di bawah Rp 5 juta," lanjut Fikar.
Senada dengan Fikar, Kusuma, pedagang bahan kain untuk alat tidur pun juga bernasib sama, di mana per harinya hanya bisa mendapatkan Rp 5 juta dan jumlah bahan kain yang terjual hanya dua rol per hari.
Foto: Kondisi kawasan Tekstil Cipadu, Tangerang yang semakin sepi ditinggal pelanggan, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Kondisi kawasan Tekstil Cipadu, Tangerang yang semakin sepi ditinggal pelanggan, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
"Sudah susah sekarang, dulu bisa lah 10 rol, sekarang mau kejual 5 rol aja susahnya minta ampun, penghasilan ya paling cuma Rp 5 juta," kata Kusuma.
Ia mengungkapkan bahan kain untuk alat tidur seperti sprei, bed cover, sarung bantal, dan lain-lain mulai banyak yang ditinggalkan, tidak seperti bahan kain untuk pakaian yang masih lebih baik penjualannya.
"Entah kenapa, kalau bahan kain ini agak sulit kejual, beda dengan bahan kain buat pakaian, sepertinya masih banyak yang cari," lanjutnya.
Nasib cenderung berbeda diungkap oleh Raihan, di mana penjualan bahan kain batik di tokonya memang turun, tetapi tidak sebesar toko lainnya. Ia mengatakan kini kebanyakan pelanggannya merupakan tukang jahit yang sering mencari bahan-bahan kain untuk pakaian, terutama seragam batik.
"Kalau ada penurunan penjualan, ya ada sih, karena dulu banyak pembeli ke sini. Sekarang yang ke sini ya tukang jahit saja, ada turun 30%, tapi ketolong sama tukang jahit yang mencari bahan untuk pembuatan batik di sini," terang Raihan.
Meski begitu, ramainya pemesanan biasanya terjadi menjelang lebaran hingga sebulan setelah lebaran. Tetapi di hari-hari biasa, kondisinya tidak jauh berbeda dengan yang lain.
"Ya sebenarnya kalau dibilang ramai, enggak juga sih, cuma ya masih mendingan di kita, karena masih ada yang nyari bahan kain untuk batik di sini," jelasnya.
(chd/wur)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
1















































