PBB Keluarkan Peringatan Keras, Dunia Dalam Bahaya Besar

6 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) makin kencang dirasakan dalam berbagai sektor. Teknologi tersebut memang bisa membawa manfaat bagi pertumbuhan ekonomi, dengan menggenjot produktivitas dan efisiensi.

Namun, ada harga mahal yang harus dibayar. Kelompok pekerja dibayangi ketakutan soal peran mereka yang akan digantikan AI. Terbukti, gelombang PHK makin sering terdengar dan tak jarang alasannya dikaitkan dengan adopsi AI.

Serangan siber dan penipuan online juga makin kencang karena dipermudah teknologi AI. Belum lagi penyebaran disinformasi dan deepfake yang merusak ruang digital dan menciptakan polarisasi antar-masyarakat.

Dampak lain yang tak bisa dianggap remeh adalah kerusakan lingkungan. Infrastruktur data center untuk menjalankan AI membutuhkan konsumsi listrik dan air dalam jumlah besar. Belum lagi lahan dan pembangunan infrastruktur tersebut yang banyak 'merampas' ruang hijau.

PBB akhirnya bereaksi dengan meminta perusahaan-perusahaan besar yang mengembangkan AI untuk meningkatkan transparansi terkait dampak lingkungan yang muncul akibat pembangunan data center.

PBB juga meminta transparansi terkait penggunaan energi terbarukan dalam pembangunan data center, dikutip dari Reuters, Rabu (24/6/2026).

Perkembangan pesat data center secara global untuk mendorong revolusi AI telah menuai kritik dari kelompok lingkungan karena penggunaan energi dan air yang tinggi, serta kurangnya transparansi.

"Pada 2030, AI dapat menggunakan lebih banyak energi daripada semua negara kecuali lima negara. Selain itu, AI mengonsumsi air yang jumlahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar seluruh 1,3 miliar penduduk Afrika sub-Sahara selama setahun penuh," kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam pidatonya selama Pekan Aksi Iklim London, dikutip dari Reuters.

Ia menyerukan perusahaan AI untuk mengukur dan mengungkapkan secara publik dampak penggunaan air, karbon, dan lahan mereka. Raksasa teknologi juga didesak berkomitmen untuk mengimplementasikan energi terbarukan di semua data center pada 2030 mendatang.

"Jika AI ingin membantu membangun masa depan yang lebih baik, AI harus jujur tentang biaya yang harus kita tanggung sekarang," ia menegaskan.

Perusahaan AI saat ini mengandalkan komitmen net-zero sukarela dan target listrik terbarukan untuk mendekarbonisasi operasi mereka. Banyak juga yang beralih ke gas atau mempromosikan energi nuklir sebagai sumber daya untuk proyek-proyek baru.

Guterres mengatakan dunia masih belum berada di jalur yang tepat untuk mencapai tujuan iklim global dan mengkritik suara-suara yang menyerukan penggunaan bahan bakar fosil yang lebih banyak.

Ia mengatakan bahwa menerapkan lebih banyak proyek energi terbarukan dan menggunakannya untuk elektrifikasi transportasi, bangunan, dan industri adalah salah satu cara tercepat untuk mengurangi emisi dan memutus ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.

Guterres juga meluncurkan seruan untuk bertindak terkait emisi metana. Ia meminta perusahaan bahan bakar fosil untuk memperbaiki kebocoran, menghentikan pembakaran rutin, dan mengadopsi standar global berbasis sains.

"Saya mendesak industri bahan bakar fosil untuk meningkatkan upaya dan melakukan apa yang sudah lama tertunda," katanya.

Ia menambahkan metana adalah gas rumah kaca yang bertanggung jawab atas sekitar sepertiga dari pemanasan global saat ini.

Guterres juga mengumumkan bahwa ia akan mengumpulkan para pemimpin dunia pada bulan September menjelang Konferensi Iklim PBB, COP31, di Turki, untuk membantu mendorong "transisi yang adil" dari bahan bakar fosil.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |