Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena "tsunami" duren alias durian tengah melanda Malaysia. Panen raya yang terjadi serentak di sejumlah wilayah penghasil membuat pasokan durian membanjiri pasar dan menekan harga hingga ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Presiden Asosiasi Produsen Durian Malaysia, Eric Chan, mengatakan anjloknya harga dipicu oleh melimpahnya pasokan dari negara bagian Perak, Penang, dan Johor yang masuk ke pasar dalam waktu bersamaan. Menurut Chan, kondisi ini merupakan koreksi alami setelah industri durian menikmati lonjakan harga selama satu dekade terakhir.
"Penurunan harga disebabkan oleh banyak buah yang tidak memenuhi persyaratan ekspor, khususnya untuk China," ujarnya, seperti dikutip The Star, Rabu (24/6/2026).
"Selama 10 tahun terakhir, harga terus meningkat. Pada akhirnya akan ada periode restrukturisasi dan konsolidasi seiring dengan kematangan rantai pasokan," katanya.
Dampak paling terasa terjadi pada durian Musang King kualitas rendah hingga menengah. Harga varietas premium tersebut dilaporkan sempat turun hingga 9 ringgit per kilogram atau sekitar Rp39.000 per kg. Angka itu jauh lebih murah dibandingkan harga normal pada musim-musim sebelumnya.
Kondisi ini disambut gembira para pencinta durian. Lim Mei Ling, seorang warga Kuala Lumpur, mengaku kini bisa menikmati Musang King tanpa harus menguras kantong.
"Biasanya saya berpikir dua kali sebelum membeli Musang King. Tapi sekarang saya bisa menikmati durian premium ini dan bahkan menyimpannya untuk nanti," ujarnya, seperti dikutip The South China Morning Post (SCMP).
Hal senada disampaikan Kelvin Tan yang rela bepergian dari Kuala Lumpur ke Raub bersama teman-temannya untuk berburu durian murah. Rasanya, ujar dia, seperti kesempatan langka untuk menikmati Musang King tanpa harus membayar selangit.
Meski demikian, pelaku industri menegaskan tidak semua durian terkena dampak besar. Pemilik kebun durian Stephen Chow mengatakan buah berkualitas ekspor masih mampu mempertahankan harga premium. Durian kelas A dan AB yang memenuhi standar ekspor ke luar negeri masih dijual sekitar 30-40 ringgit per kg atau setara Rp130.000-Rp173.000 per kg.
Di tengah banjir pasokan, para petani mulai mencari cara baru untuk menghabiskan stok. Berbagai strategi dilakukan, mulai dari siaran langsung di TikTok, penjualan langsung dari kebun, hingga paket wisata dan prasmanan durian yang menarik pengunjung dari berbagai daerah.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Buah Johor, Melvin Long, menjelaskan lonjakan produksi terjadi karena banyak pohon durian yang ditanam pada periode 2015-2020 kini memasuki masa produksi penuh. Cuaca yang mendukung serta musim panen yang berlangsung bersamaan di sejumlah negara bagian semakin memperbesar volume buah yang masuk ke pasar.
Pelaku industri memperkirakan tekanan harga masih akan berlangsung hingga akhir musim panen pada Agustus mendatang. Namun, durian Musang King berkualitas tinggi yang memiliki standar ekspor dan merek kuat diyakini tetap akan bertahan di segmen premium meski diterpa "tsunami durian".
(tfa/sef)
Addsource on Google

6 hours ago
3

















































