Pemilik ChatGPT Ketahuan Mencuri Riset Ilmuwan, Klaim Hasil Karya AI

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - OpenAI terseret skandal setelah mengklaim berhasil memecahkan persoalan matematika terkenal, yakni persamaan Navier-Stokes. Klaim OpenAI memicu respons dari matematikawan bahwa perusahaan AI itu diduga mengambil atau memanfaatkan hasil riset ilmuwan yang lebih dulu mengerjakan persoalan tersebut.

Dikutip dari Futurism, Jumat (11/9/2026), OpenAI mengaku menggunakan 10.000 agen AI selama 88 jam untuk mencari solusi terhadap persamaan Navier-Stokes. Upaya tersebut menghabiskan biaya komputasi hingga jutaan dolar.

Persamaan Navier-Stokes digunakan untuk menggambarkan pergerakan fluida seperti angin dan arus laut. Persamaan ini menjadi salah satu dari Millennium Problems yang ditetapkan Clay Mathematics Institute pada 2000. Siapa pun yang berhasil memecahkan setiap masalah tersebut berhak memperoleh hadiah US$1 juta.

OpenAI menyebut agen-agennya menemukan skenario ketika persamaan tersebut dapat menggambarkan fluida yang mengalami percepatan hingga kecepatan tak terbatas. Kondisi yang disebut "blowup" atau singularitas itu dianggap tidak mungkin secara fisik dan menunjukkan adanya batas pada persamaan tersebut.

Namun, matematikawan NYU Tristan Buckmaster menuding solusi OpenAI sangat mirip dengan risetnya bersama Levent Alpöge dari Anthropic. Buckmaster menduga OpenAI mengetahui perkembangan riset mereka dan bahkan mempertanyakan apakah perusahaan mengakses pekerjaannya melalui Codex, alat AI yang ia gunakan untuk memeriksa riset.

OpenAI membantah pernah mengakses pekerjaan Buckmaster sebelum dipublikasikan.

"Tidak dapat mengesampingkan kemungkinan bahwa data yang telah dihilangkan identitasnya dari penggunaan produk kami membantu meningkatkan model kami," kata perusahaan.

Kasus ini memicu kekhawatiran luas di komunitas akademik. Matematikawan ternama Terence Tao memperingatkan bahwa perkembangan AI dapat mengubah budaya keterbukaan dalam riset ilmiah.

"Kita sekarang melihat bahwa bahkan rumor tentang seseorang yang sedang mengerjakan suatu masalah dapat memicu upaya besar-besaran berbasis AI untuk menyelesaikannya sebelum proyek riset asli memiliki waktu untuk mencapai potensi penuhnya," tulis Tao di Mastodon.

Menurut Tao, kondisi tersebut dapat membuat ilmuwan enggan membagikan arah riset yang menjanjikan kepada komunitas yang lebih luas. Hal itu, katanya, berpotensi membalikkan tradisi ilmu pengetahuan terbuka yang telah berlangsung selama berabad-abad dan menimbulkan kerusakan jangka panjang bagi perkembangan bidang tersebut.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |