Pengusaha Hotel Ungkap Kondisi Bisnis Hotel, Libur Nataru Tak Ngefek?

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengusaha hotel buka suara merespons data pertumbuhan ekonomi  dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut sektor perhotelan dan restoran mengalami kenaikan. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan data dari BPS tidak menggambarkan kondisi di lapangan.

"Kalau kata BPS data konsumsi naik dari sektor perhotelan, faktanya di lapangan tidak demikian, justru di akhir 2025, sektor perhotelan masih lesu, okupansi hotel masih belum membaik," kata Maulana saat dihubungi CNBC Indonesia, dikutip Rabu (11/2/2026).

Maulana menambahkan, pendapatan sektor perhotelan di Indonesia hingga akhir 2025 masih turun hingga 50%-60% dan okupansi hotel di Indonesia juga masih di bawah 70%.

"Secara realitanya, revenue kita masih turun jauh, sampai 60%. Itu fakta di lapangan. Kan hotel itu indikatornya okupansi. Satu adalah okupansi, kemudian revenue. Nah secara okupansi itu masih minus," jelasnya.

Ia mengungkapkan sektor perhotelan hanya sempat naik pada Januari 2025. Namun setelah itu, okupansi cenderung menurun

"Jadi, okupansi hotel yang cukup baik hanya terjadi di Januari 2025, yang bisa melebihi okupansi 2024, setelah itu dari Februari hingga Desember, datanya menurun," ujarnya.

Maulana menambahkan, okupansi hotel nasional sepanjang 2025 mengalami penurunan hingga 3,2%, dengan rata-rata okupansi hotel hanya mencapai 47%.

Di satu sisi, fenomena libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 justru tidak terlalu mendongkrak okupansi hotel. Hal ini lantaran kondisi libur Nataru 2025 cenderung lebih pendek.

"Seperti Nataru 2025, kami melihat bahwa dampaknya terhadap okupansi itu nggak banyak. Karena libur Nataru 2025 cenderung lebih pendek dan banyak orang yang hanya memanfaatkan sesaat saja. Misal libur di tanggal 25 Desember, itu naik, tapi setelah itu, okupansi turun lagi, baru naik lagi ketika mau tahun baru," terangnya.

Ia pun menerangkan seharusnya ketika libur hari besar, okupansi hotel justru melonjak. Namun di 2025, okupansi justru masih belum menembus 80%.

"Di akhir tahun ini, okupansi tidak mencapai 80%, hanya 70%, berarti tidak berdampak," ucapnya.

Sebelumnya, BPS melaporkan pertumbuhan ekonomi pada 2025 mencapai 5,11%, sedangkan konsumsi rumah tangga tumbuh di bawahnya yakni mencapai 4,98%. Angka ini tumbuh dari tahun sebelumnya yang mencapai 4,94%, dan tumbuh dari 2023 yang mencapai 4,83%.

"Konsumsi rumah tangga tumbuh seiring meningkatnya aktivitas dan mobilitas masyarakat," kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers, Kamis (5/2/2026).

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi terjadi pada pengeluaran kelompok restoran dan hotel sebesar 6,38%, seiring meningkatnya kegiatan wisata selama liburan yang tercermin dari peningkatan perjalanan wisatawan dalam negeri.

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |