Jakarta, CNBC Indonesia - Industri petrokimia nasional menghadapi tekanan di tengah derasnya arus barang impor murah, terutama dari China. Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) memang belum terjadi dalam waktu dekat.
Namun, jika tekanan biaya produksi seperti harga gas terus meningkat, perusahaan tidak punya banyak pilihan selain melakukan langkah-langkah efisiensi yang berujung pada pengurangan tenaga kerja.
"Potensinya ada tapi masih jauh. Kalau sekarang paling mereka akan turunkan utilisasi dulu, yang tadinya di industri hilir itu kemarin masih antara 60-65% utilisasi. Ini paling akan turunkan di bawah 60%, kalau di bawah 60% mereka akan melakukan efisiensi pengurangan jam kerja dulu. Nanti setelah itu nggak tahan baru nanti pengurangan tenaga kerja atau dirumahkan dulu. Tapi itu jangka panjang, mudah-mudahan itu jangan sampai terjadi," ujar Fajar kepada CNBC Indonesia, Senin (8/6/2026).
Industri saat ini masih berupaya bertahan dengan menekan kapasitas produksi dan melakukan penyesuaian operasional. Namun ruang gerak perusahaan akan semakin sempit apabila harga gas industri benar-benar naik signifikan.
"Kalau ini harga gasnya tetap dengan mau dikasih US$20 ya waduh itu sudah dekat-dekat ke situ (PHK). Jadi tadinya kita antisipasi masih jauh untuk merumahkan karyawan, kalau ini tetap dilakukan di bulan depan dengan harga baru di atas US$15, ya ini sudah dekat, karena kan yang paling terdampak pertama adalah makanan-minuman itu di masyarakat bawah kena banget," katanya.
Arus Deras Serbuan Barang China
Di sisi lain, derasnya produk impor dari China dinilai semakin memperberat kondisi industri nasional. Fajar mengungkapkan volume barang dari Negeri Tirai Bambu yang masuk ke Indonesia terus melonjak dalam beberapa tahun terakhir.
"China sekarang ini sangat masif masuk barangnya ke mana-mana, ke Indonesia pun juga sekarang sudah kita perkirakan barang dari China itu bisa sampai 300.000 ton per tahun untuk semua jenis produk. Tadinya kan di 2023 itu kan masih di bawah 50.000, 2024 mungkin sekitar 70.000-80.000 ton, 2025 sudah naik sampai ke angka 200.000. Nah, 2026 ini kita perkirakan sampai 300.000 ton dengan harga yang relatif murah," jelasnya.
Produsen China memiliki keunggulan biaya yang sulit ditandingi oleh industri dalam negeri. Selain didukung ketersediaan bahan baku yang melimpah, biaya energi di negara tersebut juga jauh lebih kompetitif.
"Disebabkan karena memang selain dia punya feedstock yang lebih banyak dan lebih murah, mereka juga production costnya dari sisi utilisasi mereka juga disupport oleh harga listrik dan harga gas yang murah juga. Sehingga kita dalam hal ini pasti akan kalah bersaing," ucapnya.
Tekanan tersebut mulai terlihat sepanjang kuartal II tahun ini. Masuknya barang impor dalam jumlah besar membuat sejumlah pabrik kembali memangkas tingkat utilisasi setelah sebelumnya sempat mengalami pemulihan.
"Bahkan di bulan Mei lalu banyak kedatangan barang dari China itu banyak sekali. Sehingga kita, kita di bulan Juni ini rata-rata sudah menurunkan utilisasi lagi. Tadinya pada saat kenaikan harga bahan baku kemarin kita sempat utilisasi tumbuh sampai ke 70%, kemudian kita dapat bahan baku kita sudah naik ke 75% bahkan ada yang masuk ke 80% utilisasi," kata Fajar.
Ia menambahkan, pelaku industri kini terpaksa mengurangi kapasitas produksi demi menjaga keseimbangan pasar dan menghindari perang harga yang berkepanjangan dengan produk impor. Sebagian produsen dalam negeri sudah mulai memangkas margin keuntungan untuk mempertahankan pangsa pasar di tengah serbuan produk murah dari luar negeri.
"Bahkan kita sekarang sudah mencoba dengan 75% utilisasi, kita mencoba sedikit di bawah harga China ya kita menggerus margin lumayan cukup besar. Kalau persentasenya berapa, kita masih lagi hitung," pungkasnya.
(dce)
Addsource on Google

4 hours ago
1

















































