Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) Frida Adiati mengungkap, lonjakan impor Superabsorbent Polymers (SAP) asal China yang masuk ke Indonesia volumenya melonjak 94% pada Januari-Juni 2026, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun produk ini masuk dalam klasifikasi Harmonized System (HS) 3906.90.92 dan 3906.90.99 berdasarkan Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI) 2022.
Tak hanya volumenya, nilai impor produk tersebut juga meningkat 81%. Pada Januari-Juni 2025, impor SAP dari China tercatat sebanyak 46.824.693 kilogram (kg) dengan nilai US$72.918.080. Angka itu naik menjadi 90.621.285 kg dengan nilai US$131.995.746 pada Januari-Juni 2026.
Sebagai informasi, SAP merupakan bahan baku yang digunakan untuk membuat popok dan produk sanitary.
Kenaikan impor tersebut kini menjadi bagian dari penyelidikan antidumping yang dilakukan KADI terhadap produk SAP asal China. Dalam perkembangan terbaru, KADI masih menunggu jawaban mini kuesioner dari eksportir dan produsen asal China, serta jawaban kuesioner dari industri dalam negeri dan importir.
"Proses selanjutnya akan dilakukan verifikasi lapangan, baik ke industri dalam negeri maupun eksportir yang terpilih di China," kata Frida kepada CNBC Indonesia, Kamis (20/8/2026).
Frida mengatakan, berdasarkan bukti awal yang disampaikan oleh industri dalam negeri, pihaknya menemukan adanya tekanan terhadap industri nasional atas serbuan masuknya SAP impor asal China tersebut. Sejumlah indikator kinerja ekonomi industri dalam negeri mengalami penurunan, mulai dari penjualan dalam negeri, profit, pangsa pasar, harga dalam negeri, arus kas, hingga peningkatan persediaan.
"Selain itu, adanya barang impor yang dituduh dumping menyebabkan industri dalam negeri menurunkan harga jualnya selama periode penyelidikan, dan tren penurunan harga jual tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan tren penurunan HPP yang mengakibatkan industri dalam negeri mengalami kerugian," ujarnya.
Di tengah penyelidikan yang masih berjalan, Frida mengatakan, pihaknya membuka kemungkinan rekomendasi pengenaan Bea Masuk Antidumping Sementara (BMADS).
KADI dapat merekomendasikan pengenaan BMADS apabila berdasarkan hasil penyelidikan sementara terbukti terdapat dumping, kerugian industri dalam negeri, serta hubungan sebab-akibat antara impor dumping dan kerugian tersebut.
"BMADS merupakan tindakan sementara untuk mencegah berlanjutnya kerugian Industri Dalam Negeri selama proses penyelidikan," jelas dia.
Kendati demikian, potensi pengenaan BMAD juga dapat berdampak terhadap industri hilir yang menggunakan SAP sebagai bahan baku. Ia menyebut perusahaan pengguna yang masih melakukan impor bahan baku tersebut berpotensi mengalami kenaikan biaya produksi.
"Produk SAP merupakan bahan baku popok dan produk sanitary, dengan adanya BMAD, maka akan berdampak terhadap biaya produksi produk terhadap perusahaan pengguna atau hilir, apabila melakukan importasi terhadap bahan baku tersebut," terangnya.
Namun sebaliknya, lanjut Frida, industri hilir yang membeli bahan baku dari industri dalam negeri tidak akan mengalami kenaikan biaya produksi.
"Jika industri hilir tersebut membeli bahan baku dari industri dalam negeri, maka dia tidak akan mengalami kenaikan biaya produksi," kata Frida.
Ia menilai kondisi tersebut merupakan kemungkinan yang terjadi dalam jangka pendek. Sementara itu, apabila dumping terbukti tetapi tidak dikenakan tindakan, industri pemohon justru berpotensi terus mengalami kerugian dalam jangka panjang.
"Namun demikian juga harus dimengerti bahwa hal tersebut adalah kemungkinan yang terjadi pada jangka pendek. Sebaliknya bila terbukti ada dumping namun tidak dikenakan, dalam jangka panjang industri pemohon akan terus merugi dan kemungkinan terburuknya industri tersebut bisa tutup dan kita akan tergantung pada produk impor," jelasnya.
Penyelidikan SAP asal China ini merupakan tindak lanjut dari permohonan PT Nippon Shokubai Indonesia yang mewakili industri dalam negeri. KADI resmi memulai penyelidikan pada 14 Agustus 2026.
Adapun berdasarkan periode penyelidikan 1 Januari 2022 hingga 31 Desember 2025, total impor Indonesia untuk produk SAP mencapai 570.543 ton. Sebagian besar impor tersebut berasal dari China, yakni 354.918 ton atau sekitar 62% dari total impor.
Penyelidikan akan dilakukan dalam kurun waktu 12 bulan dan dapat diperpanjang sampai dengan 18 bulan bila diperlukan.
(wur)
[Gambas:Video CNBC]

6 hours ago
1
















































