Jakarta, CNBC Indonesia - Badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masih menghantui para karyawan di 2026. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) berkontribusi besar terhadap efisiensi perusahaan, sehingga memicu pemangkasan karyawan di berbagai sektor.
Bukan cuma dihantui ancaman PHK, para lulusan kuliah (fresh graduate) dan pengangguran yang masih berjuang mendapat pekerjaan juga kian tertekan.
Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari mengungkapkan AI membuat perusahaan besar memperlambat perekrutan karyawan baru. Kondisi tingkat perekrutan dan PHK yang rendah diperkirakan bakal terus berlanjut di pasar tenaga kerja. Hal ini berpotensi membuat pengangguran makin sulit mendapat pekerjaan baru.
Kendati demikian, dampak perlambatan perekrutan karyawan baru dikatakan tidak terlalu terlihat pada perusahaan kecil. "AI benar-benar berdampak ke perusahaan besar," ungkapnya, dikutip dari CNBC Internasional,
Penggunaan AI dimulai sejak ChatGPT milik OpenAI pada 2022 yang langsung booming sesaat setelah diluncurkan. Banyak perusahaan yang mengadopsi teknologi itu untuk operasional dan karyawannya.
Namun ini juga menimbulkan banyak kekhwatiran sejalan dengan pengembangan AI yang masif. Dari tenaga kerja yang terancam, penggunaan untuk produktivitas hingga investasi yang keliru untuk teknologi tersebut.
Perusahaan Makin Untung Berkat AI
Di sisi lain, Kashkari mengatakan sejumlah bisnis mulai melihat keuntungan dari investasi yang mereka kucurkan. Bahkan ini diakui oleh perusahaan yang awalnya skeptis soal AI.
"Tidak diragukan lagi sejumlah investasi salah atau keliru yang terjadi. Namun ada banyak anekdot soal bisnis yang menggunakan ini dan melihat peningkatan produktivitas yang nyata," dia menjelaskan.
"Bisnis yang saya ajak bicara yang dua tahun lalu skeptik, kini mengatakan benar-benar menggunakannya sekarang," imbuhnya.
Fenomena di Inggris
Pernyataan Kashkari sejalan dengan fenomena yang terjadi di Inggris. Morgan Stanley menyebutkan pekerja di Inggris lebih terdampak adopsi AI dibandingkan pekerja di tempat lain.
Tahun lalu saja, perusahaan di wilayah tersebut memangkas 8% dari tenaga kerja dan jadi yang terburuk di antara negara lain, seperti Jerman, AS, Jepang, dan Australia.
Perusahaan-perusahaan di Inggris Raya memang mengalami peningkatan produktivitas akibat AI rata-rata 11,5%. Namun dampak negatif seperti PHK dan perlambatan perekrutan karyawan baru menjadi momok bagi perekonomian.
Dikutip dari Cryptopolitan, lowongan pekerja mengalami penurunan di Inggris, khususnya untuk posisi yang ditangani oleh AI, misalnya pengembang software atau konsultan,
Data dari Kantor Statistik Nasional menyebutkan lowongan pekerjaan yang rentan pada AI turun 37%. Sementara posisi lainnya mengalami penurunan mencapai 26%.
"Meningkatnya biaya memperkerjakan staf mendorong makin banyak bisnis kecil untuk menggunakan AI dan solusi outsourcing untuk memenuhi peran tradisional diisi penduduk lokal yang sekarang kehilangan kesempatan ini," jelas Justin Moy dari EHF Mortgages.
Morgan Stanley mengatakan perusahaan-perusahaan di Inggris telah memangkas atau tidak mengisi kembali seperempat posisi yang ada di dalamnya. Semua itu diakibatkan karena AI, yang juga dialami oleh negara-negara lain.
Dari segi ekonomi, AI disebut akan mengangkat Inggris dari keterpurukan. Bahkan bisa meningkatkan pertumbuhan produktivitas hingga 0,8% dalam 10 tahun.
Di saat bersamaan, lowongan pekerjaan di seluruh perekonomian juga dilaporkan menurun hampir sepertiga sejak 2022. Artinya ada setengah juta posisi yang hilang.
Dari jumlah tersebut, seperlimanya adalah dari sektor yang dampak besarnya berasal dari AI. Mulai dari pekerjaan profesional, ilmiah dan teknis, layanan administrasi dan IT.
PHK Menggila di Amerika Serikat
Beralih ke AS, PHK besar-besaran terus terjadi dalam kurang dari 30 hari pertama tahun 2026. Setidaknya ribuan orang jadi korban pemangkasan di perusahaan besar AS sepanjang bulan Januari saja.
Khusus di sektor teknologi, ada Amazon yang memangkas 16 ribu posisi di seluruh dunia. PHK ini jadi kedua terbesar dalam tiga bulan terakhir di perusahaan tersebut, dikutip dari Reuters.
Meta juga akan memecat 10% karyawan atau sekitar 1.500 orang di Reality Labs. PHK kemungkinan juga jadi akhir dari perjalanan Meta di Metaverse yang dikerjakan oleh unit bisnis tersebut.
Reality Labs sendiri berkembang dari divisi yang berfokus pada realitas virtual dan augmented (VR/AR). Salah satu yang dikerjakan adalah memproduksi kacamata pintar Ray Ban Stories dengan perangkat VR dan AR. Selain itu juga terdapat platform Horizon Worlds.
Pinterest juga melakukan pemecatan sekitar kurang dari 780 orang atau 15% dari total tenaga kerja. Alasannya media sosial itu akan melakukan alokasi sumber daya pada peranan dan strategi yang berfokus pada AI.
Nama lain yang masuk dalam gelombang PHK bulan ini adalah Autodesk. Pembuat software desain memecat sekitar 1.000 orang atau 7% dari keselurhan karyawan.
Terakhir adalah perusahaan penyedia layanan internet Angi yang merumahkan 350 orang dalam putaran PHK Januari ini. Mengutip Business Insider, perusahaan melakukan pemecatan dalam rangka efisiensi AI.
"Untuk mengurangi biaya operasional dan mengoptimalkan struktur organisasi dalam mendukung pertumbuhan jangka panjang," jelas Angi.
"Pemangkasan pekerja dilakukan dengan mempertimbangkan peningkatan efisiensi yang didorong AI," ucap perusahaan.
Bukan hanya teknologi, sektor lain juga terdampak badai PHK. Nike, misalnya, dikabarkan memutuskan memecat 775 karyawan. Dampak terbesar berada di pusat distribusi yang ada di Tennessee dan Missipi.
Selain itu juga ada Citigroup. Kabarnya perusahaan memangkas sekitar 1.000 pekerja. Kebijakan ini telah diumumkan sebelumnya dua tahun lalu dan sebagai bagian dari pengurangan jumlah karyawan mencapai 20 ribu orang.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2
















































