Likuiditas Melonggar, Ternyata Ini Penyebab Kredit Belum Ngegas

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia — Likuiditas di sistem keuangan mulai menunjukkan perbaikan pada paruh kedua 2025. Namun, penyaluran kredit perbankan belum melaju kencang lantaran kepercayaan pelaku usaha dinilai belum sepenuhnya pulih di tengah ketidakpastian global.

Vice President of Macroeconomic and Financial Market Research Department, Office of Chief Economist Bank Mandiri Dian Ayu Yustina mengatakan tekanan likuiditas sempat terasa ketat pada semester I-2025 akibat kombinasi faktor global dan domestik.

"Di semester I likuiditas ketat karena kondisi global, arus kas yang terbatas akibat geopolitik, serta belanja fiskal yang tertunda karena efisiensi dan realokasi," ujar Dian dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Memasuki semester II, kondisi tersebut mulai berbalik. Likuiditas didukung oleh akselerasi belanja pemerintah melalui dana Saldo Anggaran Lebih (SAL), serta kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Bank Indonesia juga telah menurunkan suku bunga dan melakukan operasi moneter untuk menopang likuiditas sistem keuangan.

Meski demikian, Dian menilai perbaikan likuiditas belum otomatis mendorong lonjakan kredit. Dunia usaha masih bersikap hati-hati dan cenderung melakukan selective expansion. "Secara global masih sangat uncertain. Banyak korporasi memilih membayar utang sebagai respons atas kondisi geopolitik," katanya.

Menurut Dian, penyaluran kredit memang membaik menuju akhir 2025, tetapi belum mencapai pertumbuhan dua digit. Pemulihan sektoral yang tidak merata menjadi salah satu penyebabnya. Sejumlah sektor masih tertinggal, sehingga pelaku usaha terbelah antara yang optimistis dan yang memilih bersikap defensif.

Dari sisi konsumsi, tekanan juga datang dari melemahnya kelas menengah. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan proporsi kelas menengah turun menjadi sekitar 16% dari sebelumnya 20% sebelum pandemi. Kondisi ini menekan daya beli dan permintaan kredit konsumsi.

Selain itu, pemulihan pasar tenaga kerja dinilai belum ideal. Sektor yang pulih lebih cepat bersifat capital intensive, sementara sektor labor intensive tertinggal. Kualitas pekerjaan yang tercipta pun cenderung low-skilled, dengan porsi pekerja informal masih besar. Hal ini turut membatasi ekspansi kredit di segmen menengah ke bawah.

Dari sisi perbankan, Dian menegaskan likuiditas tetap dijaga secara prudent. Perbankan bersikap selektif dalam menyalurkan kredit, terutama pada segmen-segmen yang kualitas kreditnya dinilai belum kuat, meski rasio kredit bermasalah (NPL) secara agregat masih terkendali.

Ke depan, persepsi menjadi faktor kunci. Dian menyebut nilai tukar rupiah sebagai indikator yang paling cepat membentuk kepercayaan pasar. Tantangan eksternal pada 2026, termasuk persepsi investor global yang dipengaruhi penilaian lembaga internasional seperti MSCI dan Moody's, perlu direspons dengan koordinasi kebijakan yang solid.

"Kalau kepercayaan pelaku bisnis sudah terbentuk, perbankan akan mengikuti untuk mendorong kredit," pungkas Dian.

(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |