Petrokimia RI Punya Dua Wajah: Siapa Tertawa dan Menangis Karena Perang?

6 hours ago 1

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

11 August 2026 11:01

Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja emiten petrokimia dan turunannya pada semester I-2026 memberi sinyal yang cukup menarik.

Secara headline, laba bersih gabungan memang turun tajam. Namun, kalau dibedah lebih dalam, tren sektornya tidak seburuk angka agregat tersebut.

Dari 18 emiten yang masuk daftar, seluruhnya mencatat kenaikan pendapatan secara tahunan. Total pendapatan gabungan mencapai Rp225,00 triliun, naik 70,02% YoY. Ini berarti secara topline, rantai industri petrokimia masih bergerak positif, baik dari sisi permintaan, harga jual, volume, maupun konsolidasi bisnis.

Namun, laba bersih gabungan turun 66,69% YoY menjadi Rp11,45 triliun. Angka ini terlihat negatif, tetapi penurunan utamanya berasal dari tiga emiten besar, yakni BRPT (PT Barito Pacific Tbk), TPIA (PT Chandra Asri Pacific Tbk), dan CDIA (PT Chandra Daya Investasi Tbk). Ketiganya masih mencetak laba, tetapi turun tajam dibandingkan basis laba H1 2025 yang sangat tinggi.

Konteks makro juga membuat sektor ini menarik. Ketegangan geopolitik Iran-AS berpotensi menjaga volatilitas harga minyak, terutama karena risiko pasokan dan jalur distribusi energi global.

Bagi industri petrokimia, minyak bukan cuma komoditas energi, tetapi juga sumber bahan baku. Produk seperti naphtha, LPG, aromatik, olefin, hingga bahan dasar plastik punya hubungan erat dengan harga minyak dan gas.

Artinya, ketika harga minyak bergerak liar, emiten petrokimia bisa terdampak dari dua arah. Di satu sisi, biaya bahan baku bisa naik dan menekan margin.

Di sisi lain, harga jual produk kimia dan plastik juga berpotensi ikut terdorong apabila permintaan tetap kuat. Dalam data H1 2026, sinyal yang terlihat adalah pendapatan naik merata, sementara tekanan laba hanya terkonsentrasi di beberapa nama besar.

Secara keseluruhan, tren sektor ini masih bisa disebut positif. Bukan karena semua laba naik, tetapi karena mayoritas emiten menunjukkan perbaikan. Dari 18 emiten, sebanyak 9 emiten mencatat laba naik, 6 emiten berhasil berbalik dari rugi menjadi untung, dan hanya 3 emiten yang labanya turun. Tidak ada emiten yang berubah dari untung menjadi rugi.

Ringkasan Kategori

Sebelum masuk ke detail masing-masing emiten, tabel ringkasan ini menunjukkan bahwa pemulihan sektor petrokimia dan turunannya cukup luas. Tekanan laba memang besar secara nominal, tetapi jumlah emiten yang membaik jauh lebih banyak daripada yang melemah.

Dari tabel tersebut, terlihat bahwa 15 dari 18 emiten masuk kategori membaik, baik karena labanya naik maupun karena berhasil keluar dari rugi. Ini penting karena menunjukkan pemulihan tidak hanya terjadi di satu-dua nama, tetapi menyebar ke banyak pemain turunan petrokimia.

1. Laba Naik

Kelompok pertama adalah emiten yang sudah mencetak laba pada H1 2025 dan kembali membukukan pertumbuhan laba pada H1 2026. Di sini terlihat bahwa pemain kimia turunan, industrial gas, plastik, kemasan, dan material berbasis polimer masih punya ruang pertumbuhan.

UNIC dan ESSA menjadi dua nama paling besar di kelompok ini. UNIC mencatat laba Rp559,73 miliar, naik 160,71% YoY, sementara ESSA membukukan laba Rp543,13 miliar, naik 103,27%. Keduanya memberi sinyal bahwa emiten kimia dasar dan komoditas kimia masih mampu menjaga profitabilitas di tengah volatilitas harga energi.

PBID dan IMPC juga menarik karena keduanya berada lebih dekat ke sisi hilir. PBID, yang berkaitan dengan produk kemasan plastik, mencatat laba Rp410,46 miliar atau naik 112,12%. IMPC, yang bergerak di material berbasis plastik untuk bangunan dan produk turunan lainnya, mencetak laba Rp446,50 miliar, naik 51,03%.

Di kelompok yang lebih kecil, AGII, PDPP, EKAD, IGAR, dan ESIP juga bergerak positif. Walaupun kontribusi nominalnya tidak sebesar UNIC, ESSA, PBID, atau IMPC, pertumbuhan mereka memperkuat kesimpulan bahwa pemulihan berlangsung cukup menyebar di rantai hilir.

2. Laba Turun

Kategori kedua diisi oleh emiten yang masih mencetak laba, tetapi labanya turun secara tahunan. Jumlahnya hanya 3 emiten, tetapi bobotnya sangat besar karena mencakup BRPT, TPIA, dan CDIA.

TPIA menjadi nama paling penting dalam peta petrokimia Indonesia. Pendapatannya naik 83,59% menjadi Rp96,28 triliun, tetapi laba bersihnya turun 77,53% menjadi Rp5,10 triliun. Artinya, ekspansi pendapatan belum otomatis berubah menjadi ekspansi laba.

BRPT juga menunjukkan pola serupa. Pendapatan naik 76,11% menjadi Rp102,35 triliun, tetapi laba bersih turun 64,71% menjadi Rp3,43 triliun. Karena BRPT merupakan holding dengan eksposur besar ke ekosistem Chandra Asri, angka BRPT perlu dibaca sebagai bagian dari ekosistem yang lebih luas, bukan produsen petrokimia murni.

CDIA juga masuk kelompok ini dengan laba Rp311,17 miliar, turun 74,52% YoY. Dengan demikian, pelemahan laba headline sektor sebenarnya sangat terkonsentrasi. Tanpa tiga nama ini, cerita sektor akan terlihat jauh lebih positif.

3. Rugi Jadi Untung

Kategori ketiga justru menjadi bagian paling menarik. Ada 6 emiten yang pada H1 2025 masih rugi, tetapi pada H1 2026 berhasil membukukan laba. Dalam membaca sektor siklikal seperti petrokimia dan turunannya, turnaround seperti ini sering menjadi sinyal awal pemulihan.

FPNI menjadi salah satu nama paling penting di kelompok turnaround karena bergerak di produk polyethylene, yang lebih dekat dengan rantai petrokimia inti. Perusahaan berbalik dari rugi Rp68,80 miliar menjadi laba Rp152,73 miliar.

TRST, AKPI, dan ADMG juga memperlihatkan pemulihan yang kuat. Ketiganya berada di area film, plastik, polyester, dan produk turunan petrokimia. Ketika emiten-emiten seperti ini berbalik untung, artinya tekanan biaya bahan baku, harga jual, atau utilisasi produksi mulai membaik.

POLY dan APLI juga keluar dari rugi, meski nominal laba masih lebih kecil. Namun, secara arah, perubahannya tetap positif karena menunjukkan penurunan tekanan di pemain hilir.

4. Untung Jadi Rugi

Kategori terakhir ini kosong. Tidak ada emiten dalam daftar petrokimia dan turunannya yang berubah dari laba pada H1 2025 menjadi rugi pada H1 2026.

Ini poin penting. Kalau sektor benar-benar memburuk secara luas, biasanya akan muncul beberapa emiten yang jatuh dari untung menjadi rugi. Dalam data ini, hal tersebut tidak terjadi. Yang terlihat justru mayoritas emiten tetap untung atau membaik.

Kesimpulannya, sektor petrokimia dan turunannya pada H1 2026 punya dua wajah. Dari sisi headline laba gabungan, terlihat turun karena tekanan di emiten besar. Namun, dari sisi breadth atau sebaran kinerja, trennya positif: semua pendapatan naik, 15 dari 18 emiten labanya membaik atau turnaround, dan tidak ada yang jatuh dari untung menjadi rugi.

-

(gls/gls)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |