Prabowo Keluarkan Titah Baru, Sorot Sertifikasi Halal-Balpres Ilegal

9 hours ago 9

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto menyelenggarakan rapat terbatas (ratas) terkait industri tekstil dan produk tekstil (TPT), di Istana Negara, Selasa (22/9/2026). Meminta agar berbagai hambatan di industri tekstil untuk dihapus.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menginginkan agar permasalahan hambatan dapat diselesaikan.

"Nah, tadi ada beberapa catatan terkait dengan hambatan. Yang pertama tentu terkait dengan kemudahan bahan baku untuk masuk. Nah, Bapak Presiden tadi meminta kita untuk me-review terkait dengan Pertek (Persetujuan Teknis) dan yang lain," katanya.

"Kemudian yang kedua, khusus untuk di hilir yaitu terkait dengan garmen, di mana gangguan-gangguan melalui impor kiloan ataupun impor yang balpres, itu tadi juga diminta Pak Dirjen Bea Cukai untuk segera ditertibkan. Karena hal ini sangat mengganggu produsen-produsen garmen di dalam negeri," tambahnya.

Menurut Airlangga, Presiden juga meminta kepada jajarannya untuk memudahkan industri tekstil mendapatkan bahan baku, termasuk yang berbasis kulit. Khususnya terkait dengan isu sertifikasi halal.

"Karena diperlukan kemudahan terkait sertifikasi yang berkaitan dengan isu halal. Nah, ini juga sangat diperlukan tidak hanya untuk industri tekstil tetapi juga untuk industri persepatuan," tuturnya.

Lebih lanjut menurutnya produk tekstil mengalami permasalahan harmonisasi tarif besaran tarif bea masuk terhadap beberapa jenis. Untuk itu dia diminta untuk menyelesaikan persoalan terkait Bea Masuk Anti Dumping.

Dalam kesempatan itu Airlangga melaporkan terkait kondisi industri tekstil dan produk tekstil dari hulu - hilir, memberikan sumbangan terhadap PDB mencapai 0,97%. Selain itu serapan tenaga kerja mencapai 4 juta orang, dengan nilai ekspor hingga US$12 miliar.

Airlangga juga menyampaikan kepada presiden bahwa industri TPT tumbuh 5,6%, di atas pertumbuhan ekonomi. Industri barang kulit dan alas kaki tumbuh 8,25%.

Menurutnya saat ini utilisasi kapasitas produksi pabrik tekstil juga masih berada sekitar 75%, sehingga ada ruang untuk melakukan ekspansi.

Sedangkan neraca perdagangan produk garmen, Indonesia sudah melakukan ekspor sebesar US$8,7 miliar, dan impor US$690 juta. Artinya, menurut Airlangga, Indonesia sudah menjadi net eksportir.

Beda dengan produk hulu di industri tekstil, Indonesia masih menjadi net importir, dengan nilai impor US$8,4 miliar, sedangkan ekspor hanya sebesar US$3,1 miliar.

"Jadi ada dua, dari segi industri hulu sampai tengah kita net importir, tetapi kalau dari segi garmen kita net eksportir," katanya.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |