Purbaya: Pelemahan Rupiah Dan IHSG Tidak Terlepas Komentar Ekonom

1 hour ago 2
EkonomiNusantara

10 Maret 202610 Maret 2026

 Pelemahan Rupiah Dan IHSG Tidak Terlepas Komentar Ekonom Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (ist)

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

JAKARTA (Waspada.id): Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah dan koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak lepas dari komentar sebagian ekonom yang menyampaikan pandangan bahwa ekonomi Indonesia menuju resesi.

“Rupiah 17.000 dan IHSG anjlok, ini karena sebagian teman-teman ekonom bilang kita sudah resesi menuju 1998 lagi, daya beli sudah hancur,” kata Menkeu dikutip Selasa (10/3/2026).

Purbaya menegaskan kondisi ekonomi nasional saat ini tidak seperti yang dikhawatirkan. Bahkan aktivitas ekonomi RI masih berada dalam fase ekspansi.

Menurutnya, pemerintah terus berupaya menjaga daya beli masyarakat agar tetap kuat. Ia juga menilai perekonomian belum menunjukkan tanda perlambatan, apalagi menuju resesi.

“Ekonomi sedang ekspansi. Daya beli kita jaga mati-matian. Jangankan krisis, resesi saja belum. Bahkan perlambatan juga belum, kita masih ekspansi dan masih akselerasi,” ujarnya.

Karena itu, Purbaya meminta pelaku pasar, khususnya investor di pasar saham, tidak perlu terlalu khawatir terhadap kondisi saat ini. Pemerintah, kata Purbaya, terus menjaga fondasi ekonomi agar tetap kuat.

Ia menegaskan, Indonesia telah memiliki pengalaman dalam menghadapi berbagai gejolak ekonomi global. Pengalaman tersebut menjadi bekal dalam merumuskan kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi.

“Kita sudah tahu penyebab krisis 1998. Pelajaran itu kita terapkan saat krisis global 2008–2009 dan ekonomi kita tetap tumbuh baik. Pada 2020 (Covid-19) juga kita jaga dengan kebijakan yang tepat,” terangnya.

Purbaya menilai pemerintah saat ini memiliki cukup pengalaman dan instrumen kebijakan untuk meredam gejolak yang terjadi di pasar keuangan.

“Jadi tidak perlu takut. Kita punya pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk memitigasi gejolak yang ada, tentu dengan langkah-langkah yang diperlukan,” tegas Purbaya.

Sebelumnya, sejumlah ekonom memperkirakan kenaikan nilai tukar hingga Rp 17.000 per dolar AS yang picu kenaikan harga minyak dunia menembus 100 dolar AS per barel, setidaknya bisa mempengaruhi daya beli masyarakat.

Sektor transportasi yang terkait bahan bakar minyak (BBM) dan kelancaran pasokan gas elpiji untuk keperluan rumah tangga, menjadi alasan ekonom berkesimpulan situasi saat ini. (Id88).

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |