Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan terhadap rupiah kembali dirasakan pada perdagangan pagi ini. Mata uang Garuda kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Rabu (12/8/2026), rupiah melemah tipis 0,06% ke posisi Rp17.840/US$.
Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan pada perdagangan sebelumnya Selasa (11/8/2026), rupiah ditutup melemah 0,45% ke level Rp17.830/US$, sekaligus mengakhiri tren penguatan selama empat hari perdagangan beruntun.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat tipis 0,03% ke posisi 99,851. Pergerakan tersebut melanjutkan penguatan pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah hari ini masih akan dipengaruhi dinamika dolar AS menjelang pengumuman inflasi konsumen periode Juli. Data tersebut akan menjadi petunjuk terbaru bagi pasar dalam memperkirakan arah suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).
Pelaku pasar masih diliputi keraguan setelah laporan ketenagakerjaan AS pekan lalu tercatat lebih lemah dari yang diperkirakan. Kondisi pasar tenaga kerja yang melambat membuka ruang bagi The Fed untuk menahan suku bunga, tetapi risiko inflasi masih membatasi peluang pelonggaran kebijakan.
Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee mengatakan bank sentral saat ini lebih mencemaskan inflasi yang terlalu tinggi dibandingkan pelemahan pasar tenaga kerja. Pernyataan tersebut membuat pasar tetap berhati-hati menjelang rilis data inflasi.
Pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 52% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan September. Sementara peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin berada di level 48%.
Risiko inflasi juga kembali meningkat setelah harga minyak bergerak naik menyusul serangan terhadap jalur pelayaran penting di Timur Tengah. Kenaikan harga energi berpotensi menjaga tekanan harga tetap tinggi dan mempertahankan dukungan terhadap dolar AS.
Sementara itu, rupiah juga belum memperoleh dukungan kuat dari data penjualan eceran. Penjualan eceran Indonesia masih terkontraksi 3% secara tahunan pada Juni 2026 dan telah mencatat penurunan selama tiga bulan berturut-turut.
Meskipun membaik dari kontraksi 3,9% pada Mei, realisasinya masih jauh di bawah perkiraan awal yang mengarah pada pertumbuhan 1,8%. Data tersebut menunjukkan momentum konsumsi domestik belum sepenuhnya pulih sehingga menjadi sentimen yang membatasi pergerakan rupiah.
Namun, tekanan dari data tersebut tertahan oleh perbaikan secara bulanan. Indeks Penjualan Riil naik 0,7% menjadi 225,0 setelah turun 1,5% pada Mei, ditopang permintaan masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah.
(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
5

















































