Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Naik ke Rp17.875

4 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah mengawali perdagangan terakhir pekan ini di zona merah. Mata uang Garuda melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Jumat (14/8/2026), rupiah terdepresiasi 0,08% ke posisi Rp17.875/US$.

Pergerakan tersebut membalikkan penguatan tipis pada perdagangan sebelumnya. Pada Kamis (13/8/2026), rupiah ditutup terapresiasi 0,03% ke level Rp17.860/US$ setelah sempat melemah pada pembukaan.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,08% ke posisi 99,887.

Pergerakan rupiah hari ini masih akan dipengaruhi dinamika dolar AS serta penantian terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah yang akan disampaikan dalam Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

Dari eksternal, rupiah sebetulnya tengah mendapat ruang untuk menguat setelah data inflasi produsen AS kembali mengurangi peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), pada September.

Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) AS tidak mengalami perubahan secara bulanan pada Juli. Hasil tersebut lebih rendah dari perkiraan ekonom yang memproyeksikan kenaikan 0,2% dan menyusul kontraksi 0,1% pada Juni.

Data ini melengkapi laporan inflasi konsumen yang dirilis sehari sebelumnya. Harga konsumen AS hanya meningkat tipis pada Juli, sedangkan laju inflasi tahunan dan inflasi inti sama-sama melandai.

Rangkaian data tersebut membuat pasar kembali mengurangi perkiraan kenaikan suku bunga The Fed. Peluang kenaikan suku bunga pada September kini berada di level 35%, turun dari 40% pada Rabu dan 55% sepekan sebelumnya.

Berkurangnya peluang kenaikan suku bunga dapat menekan daya tarik dolar AS dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.

Namun, ruang penguatan rupiah masih dapat dibatasi oleh perkembangan harga minyak. Gangguan pasokan akibat konflik Iran dan penutupan Selat Hormuz berisiko mempertahankan harga energi pada level tinggi serta menghambat penurunan inflasi AS.

Harga minyak sempat memangkas penurunannya setelah kelompok Houthi di Yaman dilaporkan menargetkan fasilitas pengolahan minyak Saudi Aramco menggunakan pesawat nirawak. Perkembangan tersebut kembali memunculkan kekhawatiran mengenai pasokan di pasar global.

Pasar juga menantikan data penjualan ritel AS yang akan dirilis pada Jumat waktu setempat. Data tersebut akan memberikan gambaran terbaru mengenai kekuatan konsumsi dan kondisi perekonomian AS.

Selain faktor eksternal, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR dan DPD dalam rangka peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia. Agenda tersebut berlangsung di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, pada hari ini.

Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menyampaikan Pidato Kenegaraan dalam agenda tersebut. Setelah itu, rangkaian kegiatan akan dilanjutkan dengan Rapat Paripurna DPR untuk penyampaian RUU APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya.

Pelaku pasar akan mencermati asumsi nilai tukar rupiah, pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga, defisit anggaran, serta strategi pembiayaan pemerintah untuk 2027. Arah kebijakan fiskal yang kredibel dan mampu menjaga defisit tetap terkendali berpotensi memperkuat kepercayaan investor serta menopang rupiah.

Di tengah berbagai sentimen tersebut, Mega Capital Sekuritas memperkirakan pergerakan rupiah akan cenderung stabil pada perdagangan hari ini.

"Kami memprediksi pergerakan rupiah stabil di rentang Rp17.850-Rp17.950/US$ hari ini," tulis Mega Capital Sekuritas dalam Macro & Fixed Income Daily Morning Notes, Jumat (14/8/2026).

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |