Jakarta, CNBC Indonesia - Perundingan damai selama dua hari di Jenewa antara Ukraina dan Rusia berakhir pada Rabu (18/2/2026) tanpa menghasilkan terobosan besar. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan ketidakpuasannya terhadap hasil pertemuan tersebut, sementara Washington justru melaporkan adanya kemajuan yang berarti dalam proses diplomasi ini.
Pejabat dari Moskow maupun Kyiv mengakui bahwa diskusi yang berlangsung di Jenewa berjalan sangat sulit. Meskipun kedua delegasi berjanji untuk bertemu kembali, mereka belum menetapkan tanggal pasti untuk putaran berikutnya, meski Zelensky dan Gedung Putih mengisyaratkan bahwa diskusi lanjutan dapat terjadi dalam waktu dekat.
Ukraina saat ini berada di bawah tekanan berkelanjutan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menyetujui kesepakatan yang mungkin melibatkan konsesi menyakitkan. Tekanan ini muncul di tengah gempuran pasukan Rusia terhadap jaringan listrik Ukraina dan gerak maju militer Rusia yang perlahan di medan perang.
Zelensky menyampaikan pandangannya melalui pidato video malam hari terkait hasil perundingan tersebut. Ia menegaskan bahwa hasil yang dicapai hingga saat ini belum bisa dikatakan memadai bagi pihak Ukraina.
"Sampai hari ini, kita tidak bisa mengatakan bahwa hasilnya cukup. Pihak militer membahas masalah-masalah tertentu secara serius dan substantif. Masalah politik yang sensitif, kemungkinan kompromi, dan pertemuan para pemimpin yang diperlukan belum dibahas secara memadai," ujar Zelensky dikutip Reuters.
Dalam sebuah wawancara di YouTube dengan jurnalis Piers Morgan, Zelensky mengungkapkan bahwa para perunding sebenarnya telah bergerak lebih dekat menuju kesepakatan mengenai mekanisme pemantauan gencatan senjata. Ia menyebutkan bahwa detail teknis mengenai pengawasan setelah perang berakhir sedang dimatangkan.
"Mereka lebih dekat dengan hasil di mana kita akan memiliki dokumen yang tertulis semua detailnya, bagaimana hal itu dapat atau harus dipantau setelahnya, segera setelah gencatan senjata," kata Zelensky.
Terkait isu wilayah yang dianggap sangat sensitif, Zelensky berpendapat bahwa masalah tersebut memerlukan keterlibatan langsung dari pucuk pimpinan kedua negara. Menurutnya, pertemuan antar pemimpin adalah kunci untuk menyelesaikan poin-poin paling sulit.
"Masalah wilayah yang menyakitkan dan sulit dapat diselesaikan melalui pertemuan para pemimpin kedua negara," tuturnya.
Di sisi lain, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt memberikan nada yang lebih optimistis dengan menyatakan adanya kemajuan bermakna yang dicapai selama diskusi di Swiss. Ia juga mengisyaratkan bahwa jadwal perundingan berikutnya akan segera disusun.
"Ada kemajuan bermakna yang dibuat dengan janji untuk terus bekerja menuju kesepakatan damai bersama. Presiden Trump memandang situasi ini, yang sudah berlangsung hampir empat tahun, sangat tidak adil, bukan hanya bagi warga Rusia dan Ukraina yang kehilangan nyawa tetapi juga bagi pembayar pajak AS yang telah memberikan dukungan finansial kepada Ukraina," ungkap Leavitt.
Sementara itu, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan bahwa tim perunding Rusia akan segera memberikan laporan kepada Presiden Vladimir Putin. Ia juga mengonfirmasi bahwa ketua delegasi Rusia mengakui jalannya diskusi tersebut berlangsung alot.
Ketua perunding Rusia, Vladimir Medinsky, memberikan gambaran mengenai suasana di dalam ruang perundingan. Ia menyebut meskipun situasi terasa berat, kedua belah pihak tetap menjaga profesionalisme dalam berdiskusi.
"Pembicaraan ini sulit, tetapi dilakukan secara profesional," ucap Medinsky.
Namun, di tengah proses tersebut, Zelensky sempat melontarkan kritik melalui media sosial X. Ia menuduh Rusia sengaja memperlambat proses diplomasi yang seharusnya sudah bisa memasuki tahap akhir penyelesaian konflik.
"Rusia mencoba menyeret negosiasi yang sebenarnya sudah bisa mencapai tahap akhir," tulis Zelensky dalam unggahannya.
Persoalan wilayah di timur Ukraina dan nasib Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia tetap menjadi ganjalan utama. Moskow menuntut Ukraina menyerahkan sekitar 20% wilayah Donetsk yang belum dikuasai Rusia, sementara Kyiv menuntut agar PLTN Zaporizhzhia dikelola oleh AS dan Ukraina, sebuah usulan yang ditolak mentah-mentah oleh Rusia.
Ketegangan diplomatik juga meningkat setelah Trump mendesak Ukraina untuk segera mencapai kesepakatan. Dalam sebuah pernyataan kepada wartawan, Trump memperingatkan agar Ukraina tidak menunda-nunda proses di meja perundingan.
"Ukraina lebih baik datang ke meja perundingan dengan cepat. Hanya itu yang saya katakan kepada Anda," tegas Trump.
Menanggapi tekanan publik tersebut, Zelensky dalam wawancara dengan media Axios menyatakan keberatannya terhadap sikap Trump. Ia merasa tidak adil jika tuntutan konsesi hanya ditujukan kepada pihak Ukraina secara terbuka.
"Tidak adil jika Trump terus menuntut konsesi secara terbuka dari Ukraina, bukan dari Rusia," kata Zelensky.
(tps/luc)
Addsource on Google

2 hours ago
4
















































