Satu Gaji Tak Cukup, Side Job Jadi Normal Baru di Korea Selatan

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia — Lonjakan biaya hidup yang tak sebanding dengan pertumbuhan upah membuat semakin banyak anak muda Korea Selatan terjebak dalam rutinitas kerja tanpa henti. Satu pekerjaan tak lagi cukup. Siang hingga malam, bahkan akhir pekan, mereka membagi waktu demi menutup kebutuhan hidup yang kian mencekik.

Seperti yang dialami oleh seorang karyawan pemasaran di Seoul, Kim yang berusia 30 tahun. Ia mengakhiri jam kantornya pukul 18.00. Namun, hari kerjanya belum benar-benar usai. Tiga malam dalam sepekan, dia berkeliling kota untuk mengajar bahasa Inggris kepada siswa sekolah menengah.

"Saya sudah mengajar selama tujuh tahun. Dengan 3 juta won ($ 2.074) yang saya dapatkan dari pekerjaan utama saya, saya merasa tidak akan pernah bisa membeli rumah atau berkeluarga. Bekerja dengan satu pekerjaan sepertinya tidak cukup untuk masa depan," ujarnya mengutip Korea Herald, Sabtu (7/2/2026).

Selain itu, ada Lee berusia 32 tahun yang bekerja sebagai staf penjualan di sebuah perusahaan besar. Dia memiliki side job atau pekerjaan sampingan mengunggah dan mendaftarkan produk kecantikan Korea di Amazon. Hal itu dia lakukan pada malam hari setelah jam kerja pekerjaan utamanya usai. 

Pekerjaannya membosankan dan standar yang dituntut oleh platform tersebut, sering membuatnya stres. Namun, dia mengatakan bahwa dia tidak punya banyak pilihan.

"Setelah membayar sewa rumah, belanjaan, dan sesekali makan di luar, nyaris tidak ada yang tersisa untuk ditabung. Ini bukan tentang ambisi. Ini adalah sebuah kebutuhan," ungkapnya.

Fenomena Kim dan Lee mencerminkan realitas baru kaum muda Korea. Pekerjaan sampingan yang dulu identik dengan pekerja lepas kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan pekerja usia produktif. Mereka yang menjalani lebih dari satu pekerjaan kerap disebut sebagai N-jobbers.

Hampir setengah dari pekerja Korea sekarang melaporkan memiliki pekerjaan sampingan, menurut survei terbaru dari portal pekerjaan Incruit, dengan partisipasi tertinggi di antara mereka yang berusia 20-an (55,2 persen) dan 30-an (57 persen).

Data Kementerian Data dan Statistik Korea mencatat, jumlah pekerja dengan lebih dari satu pekerjaan mencapai 404.409 orang per Oktober 2025. Survei lain oleh platform NewWorker terhadap 728 responden dewasa menunjukkan 49,5% terlibat pekerjaan sampingan, nyaris seimbang dengan mereka yang hanya mengandalkan satu pekerjaan.

Di kalangan pekerja kantoran penuh waktu, 48,4% mengaku memiliki sumber penghasilan tambahan. Para ahli menilai angka sebenarnya kemungkinan lebih besar karena banyak pekerja enggan melaporkan pekerjaan sampingan mereka ke perusahaan.

Para ahli mengatakan bahwa angka-angka tersebut kemungkinan besar meremehkan skala yang sebenarnya, karena banyak pekerja yang ragu-ragu untuk mengungkapkan sumber pendapatan sekunder kepada pemberi kerja.

Seiring dengan meningkatnya jumlah anak muda Korea yang melakukan pekerjaan sampingan, begitu pula dengan keragaman di pasar pekerjaan sampingan. Peluang disesuaikan dengan keterampilan digital atau minat pribadi dan tersedia secara online dan offline.

Pekerjaan sampingan berkisar dari penampilan berbayar satu kali sebagai tamu pernikahan dan bimbingan akademis privat hingga penghasilan berbasis ponsel pintar, di mana seseorang dapat memperoleh sejumlah kecil uang dengan menonton iklan, menjelajahi internet, dan berjalan kaki secara fisik.

Dengan meluasnya penggunaan kecerdasan buatan, banyak orang yang juga mencari produksi konten YouTube, menulis blog, atau menjalankan toko online untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

"Diversifikasi ini telah dipercepat oleh media sosial, yang berfungsi sebagai pasar dan platform pembelajaran. Para pekerja berbagi tips tentang penghasilan berbasis aplikasi, strategi penjualan digital, atau pengetahuan tentang pembuatan konten, sehingga mendorong lebih banyak orang untuk mencoba bentuk-bentuk penghasilan tambahan yang tidak memerlukan banyak modal," ujar Lee Ji-won, 34 tahun, yang menghasilkan tambahan 1 juta won dengan menulis blog.

"Di Instagram, ada banyak sekali postingan tentang cara menghasilkan uang di platform ini. Banyak yang berhasil menerbitkan buku dan menjadi terkenal di komunitas," kata Lee.

Di balik tren ini, para pakar menyoroti jurang antara inflasi resmi dan kenyataan di lapangan. Meski inflasi konsumen tercatat hanya 2,1% tahun lalu, terendah dalam lima tahun, banyak pekerja merasa biaya hidup naik jauh lebih cepat.

Direktur Institute for Industrial and Labor Policy, Kim Sung-hee, menilai stagnasi upah menjadi pemicu utama. "Pertumbuhan gaji tidak mampu mengejar kenaikan biaya hidup. Akibatnya, model 'satu pekerjaan utama plus pekerjaan sampingan' menjadi standar baru," ujarnya.

Ia juga mengingatkan meningkatnya pekerjaan tidak menentu yang berpotensi mengubah struktur ketenagakerjaan jangka panjang. Survei menunjukkan 82,5% pekerja merasa perlu penghasilan tambahan, baik untuk menutup kebutuhan harian, dana darurat, maupun biaya tak terduga.

Fenomena N-jobber juga mencerminkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap karier. Inflasi, ketidakpastian kerja, dan tekanan di tempat kerja mengikis kepercayaan pada jenjang karier tradisional.
Survei 20s Lab terhadap 850 pekerja usia 20-30-an menunjukkan 36,7% responden tidak tertarik promosi ke posisi manajerial karena stres dan beban kerja.

Survei Job Korea pada 2023 bahkan mencatat 54,8% pekerja muda enggan naik ke level eksekutif. "Generasi sekarang sadar bahwa penghasilan bisa diperoleh di luar kantor," kata Kim Sung-hee. "Tanggung jawab lebih besar di perusahaan tidak lagi dianggap satu-satunya jalan menuju masa depan aman," lanjutnya.

Bagi sebagian N-jobber, pekerjaan sampingan juga menjadi sarana aktualisasi diri dan investasi masa depan. Seorang profesional berusia 27 tahun di Seoul yang mengelola kanal YouTube dengan 27.000 pelanggan mengaku pekerjaan tambahannya memberinya pengalaman baru sekaligus kestabilan finansial.

Namun, harga yang harus dibayar tidak kecil. Laporan Institut Keselamatan dan Kesehatan Tenaga Kerja Korea mencatat, N-jobber muda bekerja rata-rata 58,7 jam per minggu, bahkan ada yang mendekati 97 jam.

Profesor sosiologi Universitas Yeungnam, Heo Chang-deok, memperingatkan risiko kelelahan kronis. "Jam kerja berlebihan mencerminkan kecemasan tertinggal secara ekonomi. Tapi ini bisa menurunkan produktivitas dan merusak hubungan sosial," tutupnya.

(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |