SENTIMEN PEKAN DEPAN
Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
08 February 2026 18:15
Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaku pasar keuangan akan menghadapi pekan yang padat dengan agenda rilis data ekonomi makro dari sejumlah negara ekonomi utama dunia. Sepanjang pekan depan, investor akan mencermati perkembangan indikator ekonomi dari Indonesia, Amerika Serikat (AS), dan China yang dijadwalkan rilis secara berurutan.
Rangkaian data ini dinilai krusial karena akan memberikan gambaran terbaru mengenai kondisi daya beli masyarakat, stabilitas harga, serta situasi pasar tenaga kerja yang menjadi landasan kebijakan bank sentral.
Pergerakan pasar saham dan nilai tukar diperkirakan akan merespons realisasi data-data tersebut sebagai penentuan arah konsensus pasar pada pekan depan setelah dinamika pasar domestik yang cukup volatil.
Kinerja Penjualan Ritel Indonesia Menunjukkan Tren Positif
Agenda ekonomi domestik akan diawali dengan rilis data Penjualan Ritel untuk bulan Desember 2025 yang dijadwalkan pada hari Selasa mendatang. Indikator ini menjadi barometer penting untuk mengukur kekuatan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Berdasarkan data Bank Indonesia sebelumnya, kinerja penjualan eceran pada November 2025 mencatatkan pertumbuhan yang solid sebesar 6,3% secara tahunan (year-on-year).
Angka tersebut menunjukkan akselerasi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 4,3%, sekaligus menandai tren pertumbuhan positif selama tujuh bulan berturut-turut.
Secara rinci, peningkatan penjualan ritel pada periode tersebut didorong oleh permintaan yang kuat pada beberapa kelompok komoditas utama. Kelompok suku cadang dan aksesoris otomotif mencatatkan kenaikan tertinggi dengan pertumbuhan mencapai 17,7%, meningkat signifikan dari 12,0% pada bulan sebelumnya.
Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga tumbuh 8,5%, sementara barang budaya dan rekreasi naik 8,1%. Di sisi lain, penjualan bahan bakar yang sebelumnya terkontraksi kini kembali mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 0,8%.
Momentum kenaikan ini juga terlihat secara bulanan, di mana aktivitas ritel meningkat 1,5% pada November, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,6% pada Oktober. Hal ini mengindikasikan adanya perbaikan permintaan menjelang akhir tahun.
Untuk data Desember yang akan dirilis, konsensus pasar memperkirakan penjualan ritel akan tetap tumbuh di kisaran 5,5% hingga 6,3%, seiring dengan pola musiman belanja akhir tahun dan dukungan kebijakan pemerintah yang menjaga daya beli.
Stabilitas data ini diharapkan dapat memberikan sentimen positif bagi pasar domestik di tengah ketidakpastian global.
Ujian Optimisme Konsumen di Awal Tahun
Agenda ekonomi domestik akan langsung dibuka pada hari Senin dengan rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia untuk bulan Januari 2026. Data ini sangat dinanti untuk melihat apakah optimisme masyarakat kembali bangkit di awal tahun baru.
Konsensus pasar memperkirakan IKK Januari akan berada di level 123,9, sedikit menguat dibandingkan posisi Desember 2025 yang tercatat sebesar 123,5.
Pada bulan sebelumnya, keyakinan konsumen memang mengalami sedikit penurunan dari level 124,0 di November, yang merupakan level tertinggi dalam sembilan bulan, akibat memburuknya sebagian besar sub-indeks pembentuk survei.
Penurunan pada Desember lalu terutama dipicu oleh persepsi konsumen terhadap ketersediaan penghasilan saat ini yang turun 1,3 poin menjadi 120,2, serta pandangan terhadap prospek ekonomi yang terkoreksi 1 poin menjadi 135,6.
Selain itu, minat masyarakat untuk membelanjakan uang pada barang tahan lama (durable goods) tercatat menurun cukup dalam sebesar 1,8 poin ke level 107,6 dibandingkan enam bulan sebelumnya, mengindikasikan adanya sikap menahan belanja sekunder. Ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja untuk enam bulan ke depan juga tercatat turun tipis 0,2 poin menjadi 135,1.
Meskipun demikian, struktur optimisme masyarakat tidak sepenuhnya goyah. Terdapat perbaikan signifikan pada persepsi ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan enam bulan lalu yang melonjak 2,8 poin menjadi 106,5.
Selain itu, ekspektasi penghasilan untuk enam bulan ke depan juga mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,2 poin menjadi 140,8. Jika data Januari nanti terealisasi sesuai prediksi di angka 123,9, hal ini akan mengonfirmasi bahwa penurunan di akhir tahun hanyalah koreksi wajar dan daya beli masyarakat masih cukup solid untuk menopang pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026.
Konsumsi Masyarakat Amerika Serikat
Dari Amerika Serikat, data penjualan ritel untuk bulan Desember 2025 juga dijadwalkan rilis pada hari yang sama. Pada bulan November, penjualan ritel AS tercatat tumbuh 0,6% secara bulanan, angka kenaikan terbesar sejak Juli dan melampaui ekspektasi pasar yang berada di level 0,4%.
Kenaikan tersebut terutama didorong oleh lonjakan penjualan mobil menyusul berakhirnya insentif pajak kendaraan listrik, serta tingginya aktivitas belanja liburan. Sektor barang olahraga, instrumen musik, dan toko buku mencatatkan kenaikan 1,9%, sementara penjualan di stasiun pengisian bahan bakar naik 1,4%.
Meskipun data November menunjukkan kekuatan, konsensus pasar memproyeksikan adanya perlambatan pada data Desember 2025 dengan estimasi pertumbuhan sebesar 0,4%. Pelaku pasar mencermati bahwa kenaikan penjualan sebelumnya sebagian besar bersifat musiman dan didorong oleh faktor spesifik seperti otomotif.
Di sisi lain, penjualan pada kategori furnitur tercatat turun 0,1%, sementara kategori elektronik dan general merchandise cenderung stagnan. Jika realisasi data nanti menunjukkan angka di bawah ekspektasi, hal ini dapat mengonfirmasi bahwa konsumen AS mulai membatasi pengeluaran akibat tekanan suku bunga yang tinggi.
Pasar Tenaga Kerja AS
Salah satu data yang paling dinanti oleh pelaku pasar global adalah laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada pertengahan pekan. Data pasar tenaga kerja AS menunjukkan tren pendinginan yang konsisten dalam beberapa bulan terakhir.
Pada laporan sebelumnya untuk bulan Desember 2025, ekonomi AS hanya menambahkan 50.000 pekerjaan non-pertanian (Non-Farm Payrolls), angka yang berada di bawah revisi bulan sebelumnya sebesar 56.000 serta di bawah ekspektasi pasar yang memprediksi kenaikan 60.000 pekerjaan.
Revisi data historis juga menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja tidak sekuat yang dilaporkan sebelumnya. Data untuk bulan Oktober dan November direvisi turun dengan total pengurangan gabungan sebesar 76.000 pekerjaan.
Untuk data Januari 2026 yang akan dirilis, konsensus pasar memperkirakan penambahan Non-Farm Payrolls akan kembali turun menjadi 40.000. Sejalan dengan itu, tingkat pengangguran diprediksi naik tipis menjadi 4,5% dari posisi sebelumnya 4,4%.
Sektor-sektor seperti perdagangan ritel tercatat kehilangan 25.000 pekerjaan pada periode sebelumnya, sementara sektor pertambangan, konstruksi, dan manufaktur cenderung stagnan tanpa perubahan signifikan.
Penurunan rata-rata penambahan kerja bulanan sepanjang tahun 2025 menjadi 49.000-jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2024-menjadi sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS mulai melonggar, yang berpotensi mendorong The Fed untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter guna mencegah kenaikan pengangguran lebih lanjut.
Inflasi China
Perhatian investor juga tertuju pada rilis data inflasi konsumen (CPI) China untuk bulan Januari 2026. Pada Desember 2025, tingkat inflasi tahunan China tercatat sebesar 0,8%, level tertinggi sejak Februari 2023, namun masih di bawah ekspektasi pasar sebesar 0,9%. Kenaikan inflasi pada akhir tahun lalu terutama dipicu oleh lonjakan harga pangan sebesar 1,1% akibat kenaikan harga sayuran segar dan buah-buahan yang terganggu faktor cuaca.
Meskipun terjadi kenaikan pada harga pangan, inflasi inti yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi tercatat stabil di level 1,2%. Namun, tekanan deflasi masih terlihat pada sektor perumahan yang harganya turun 0,2% dan biaya transportasi yang terkoreksi 2,6%.
Konsensus pasar memperkirakan inflasi China untuk Januari 2026 akan melandai kembali ke level 0,5% secara tahunan. Penurunan ini mencerminkan permintaan domestik yang masih belum pulih sepenuhnya, yang menjadi tantangan bagi pemerintah China dalam memacu pertumbuhan ekonomi.
Bagi Indonesia sebagai mitra dagang utama, stabilitas ekonomi China menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi kinerja ekspor dan harga komoditas.
Sinyal Perbaikan Bertahap pada Sektor Manufaktur China
Melengkapi data inflasi konsumen, investor juga perlu mencermati pergerakan harga di tingkat pabrik atau Indeks Harga Produsen (PPI) China. Data terbaru menunjukkan bahwa tekanan deflasi di sektor industri China mulai mereda, meskipun tantangan struktural masih membayangi.
Pada Desember 2025, harga produsen China tercatat terkontraksi sebesar 1,9% secara YoY. Meskipun angka ini menandai penurunan selama 39 bulan berturut-turut, realisasi tersebut lebih baik dibandingkan kontraksi 2,2% pada bulan November dan sedikit di atas ekspektasi pasar yang memprediksi penurunan 2,0%.
Perbaikan ini tercatat sebagai penurunan yang paling landai sejak Agustus 2024, mencerminkan dampak awal dari upaya pemerintah Beijing dalam mengendalikan persaingan harga yang berlebihan.
Secara rinci, penurunan harga bahan produksi melambat menjadi minus 2,1%, dengan perbaikan signifikan terlihat di sektor pertambangan dan penggalian yang kontraksinya mengecil menjadi 4,7%.
Selain itu, secara MoM, PPI Desember mencatatkan kenaikan 0,2%, melanjutkan tren positif setelah kenaikan tipis pada dua bulan sebelumnya.
Konsensus pasar memproyeksikan tren perbaikan ini akan berlanjut pada Januari 2026 dengan estimasi kontraksi yang semakin menipis ke level 1,7%, memberikan harapan bahwa sektor manufaktur China mulai menemukan titik keseimbangannya.
Tren Inflasi AS dan Ekspektasi Kebijakan The Fed
Pekan data makro akan ditutup dengan rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang menjadi acuan utama inflasi. Pada Desember 2025, inflasi umum AS tercatat naik 0,3% secara bulanan, didorong oleh kenaikan biaya tempat tinggal (shelter) sebesar 0,4% dan harga makanan sebesar 0,7%.
Inflasi inti pada periode yang sama tercatat naik 0,2%, sedikit di bawah ekspektasi pasar. Kenaikan harga juga tercatat pada sektor rekreasi, tiket pesawat, dan perawatan medis, sementara harga mobil bekas dan perabotan rumah tangga mengalami penurunan.
Untuk data Januari 2026, pasar memproyeksikan inflasi AS akan melandai signifikan ke level 0,1% secara bulanan. Jika data ini terealisasi sesuai prediksi, hal tersebut akan mengonfirmasi tren disinflasi yang sedang berlangsung di AS.
Kombinasi antara inflasi yang mereda dan pasar tenaga kerja yang melemah akan menjadi pertimbangan utama bagi Bank Sentral AS dalam pertemuan kebijakan mendatang.
Data yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi menekan indeks Dolar AS dan imbal hasil obligasi AS, yang pada gilirannya dapat memberikan ruang bagi penguatan mata uang pasar berkembang, termasuk Rupiah.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

1 hour ago
3
















































