Sering Lupa! Ini Kesalahan Saat Bagikan Daging Kurban

8 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Pembagian daging kurban saat Hari Raya Iduladha perlu dilakukan dengan hati-hati agar kualitas daging tetap terjaga dan aman dikonsumsi masyarakat. Pasalnya, proses penyembelihan hingga distribusi yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko kontaminasi mikroba.

Dosen Fakultas Peternakan IPB University, Dr. Muhamad Baihaqi mengingatkan, praktik penyembelihan hewan kurban di Indonesia masih banyak dilakukan di ruang terbuka dengan standar kebersihan yang belum optimal. Ia bilang, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko pencemaran bakteri pada daging apabila proses penanganannya tidak dilakukan dengan benar.

"Sering kali penyembelihan dan pengolahan dilakukan di tempat terbuka tanpa standar sanitasi yang baik sehingga risiko kontaminasi mikroba menjadi lebih tinggi," kata Baihaqi dalam keterangan tertulis IPB University dikutip pada Rabu (27/5/2026).

Oleh karenanya, ia pun menyarankan panitia kurban memisahkan area kotor dan area bersih selama proses pemotongan hewan. Area penyembelihan dan pengulitan, kata ia, sebaiknya tidak bercampur dengan lokasi pemotongan daging maupun pengemasan.

Selain itu, Baihaqi menyoroti kebiasaan mencampur daging dan jeroan dalam satu kantong saat pembagian kurban. Menurutnya, praktik tersebut sebaiknya dihindari karena dapat mempercepat proses kontaminasi.

"Daging sering kali dicampur dengan jeroan saat dikemas. Ini berisiko tinggi karena jeroan dapat mempercepat kontaminasi," ujar Baihaqi.

Ia menyarankan daging dan jeroan dikemas secara terpisah. Setelah diterima masyarakat, daging juga sebaiknya dipisahkan dari jeroan dan tulang, kemudian dibersihkan sebelum disimpan di dalam freezer jika belum akan segera dimasak.

Tak hanya soal pengemasan, kualitas daging kurban juga ditentukan sejak hewan masih hidup. Baihaqi mengatakan kondisi ternak sebelum disembelih perlu diperhatikan, mulai dari transportasi, kecukupan pakan dan minum, hingga waktu istirahat yang memadai agar hewan tidak mengalami stres.

Ia bilang, stres pada ternak dapat memengaruhi kualitas daging yang dihasilkan. Di sisi lain, distribusi daging kurban di Indonesia umumnya dilakukan tanpa sistem rantai dingin atau pendinginan.

Kondisi ini membuat panitia perlu bergerak cepat dalam proses pembagian agar kualitas daging tetap terjaga dan tidak mudah rusak. Baihaqi menambahkan, sejumlah lembaga kurban kini mulai mengembangkan inovasi dengan mengolah daging menjadi produk siap saji seperti rendang atau dendeng kaleng.

Namun, metode tersebut membutuhkan biaya serta peralatan yang lebih besar dibandingkan pembagian daging mentah. Ia menegaskan, penanganan daging kurban yang baik bukan hanya berkaitan dengan keamanan pangan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab dalam menjalankan ibadah kurban.

"Penanganan yang baik tidak hanya menjaga kualitas daging, tetapi juga menjadi bagian dari ibadah yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab," kata Baihaqi.

(mij/mij)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |