Terungkap! Ini Alasan Prabowo Bangun Tambak Udang Raksasa di Waingapu

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menyiapkan pembangunan tambak udang modern berskala besar di Waingapu, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai salah satu strategi menjaga daya saing ekspor perikanan Indonesia. Proyek yang menjadi penugasan Presiden Prabowo Subianto itu bukan sekadar mengejar peningkatan produksi, tetapi juga memastikan pasokan udang nasional tetap stabil untuk memenuhi kebutuhan pasar global.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, pembangunan tambak modern tersebut menjadi bagian dari upaya memperbaiki kelemahan mendasar sektor budidaya udang nasional.

"Sebetulnya karena kita sudah tahu persis di mana letak kelemahan kita yang harus kita improve. Nah itulah salah satunya kemudian kita ngebangun beberapa pekerjaan besar yang ditugaskan oleh Bapak Presiden (Prabowo Subianto), karena Bapak Presiden ini inginnya adalah sesuatu yang sekaligus dalam skala-skala yang besar," kata Trenggono dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia, Kamis (25/6/2026).

"Seperti pembangunan tambak udang besar di wilayah Waingapu di Indonesia Timur ya. Itu tujuannya untuk menjaga agar kita tetap stabil dalam suplai, suplai kepada pasar global," sambungnya.

Menurut dia, Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar sebagai produsen udang dunia. Saat ini produksi udang nasional mencapai sekitar 400 ribu ton per tahun dengan luas tambak sekitar 247.800 hektare. Namun produktivitas tambak masih tergolong rendah karena mayoritas masih dikelola secara tradisional.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memulai pembangunan Kawasan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. (Dok. KKP)Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memulai pembangunan Kawasan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. (Dok. KKP) Foto: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memulai pembangunan Kawasan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. (Dok. KKP)

"Karena udang itu kita produksinya kurang lebih sekitar 400.000 ton setahun. Nah itu kita punya lahan 247.800-an hektar. Produktivitas kita tuh masih 0,6. Jadi masih sangat tradisional. Cara treatment budidayanya tuh masih tradisional," jelas dia.

Kondisi tersebut, lanjut Trenggono, menjadi penyebab produksi udang nasional belum stabil. Pemerintah pun mulai membangun model tambak modern yang nantinya akan menjadi acuan untuk meningkatkan produktivitas tambak milik masyarakat.

"Dan ini yang kita improve, kita bikin dulu skala model yang bagus, yang modern, yang sesuai dengan standar budidaya yang benar. Lalu kemudian tahapan berikutnya tentu kita akan koreksi dan kita pilih tambak-tambak masyarakat untuk kemudian kita siapkan satu model kita improve juga, agar dia produktivitasnya bisa lebih stabil," ujarnya.

Ia menilai, kestabilan produksi menjadi syarat penting agar produk udang Indonesia mampu memenuhi kebutuhan industri global secara berkelanjutan.

"Karena industri kan butuhnya tiga hal. Kuantitas harus terjaga, kualitasnya juga harus standar sama gitu, lalu delivery time," sebut Trenggono.

"Nah kalau di dalam budidaya ini kalau kita tidak... kalau di industri kenapa menurut saya sekarang ini belum begitu stabil? Karena bisa naik turun gitu ya kan, kadang-kadang karena penanganan atau cara berbudidaya nya tidak stabil juga, efeknya adalah kena penyakit lah dan seterusnya gitu. Itu kan menyebabkan tidak stabil. Nah ini yang harus kita koreksi dulu," pungkasnya.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |