Jakarta, CNBC Indonesia - Jelang libur sekolah yang berdekatan dengan tahun ajaran baru 2026 menjadi periode yang menantang bagi keuangan rumah tangga. Bukan hanya soal liburan, tetapi juga lonjakan biaya pendidikan yang datang hampir bersamaan.
"Liburan tidak seharusnya terasa seperti pengeluaran yang muncul tiba-tiba dan tidak terencana. Liburan harus dimasukkan sebagai salah satu pos dalam anggaran dan perencanaan keuangan Anda." Ujar Mary Ware, CFP, Certified Financial Planner (Wealth Adviser), dalam artikel edukasi keuangan di Kiplinger Adviser Intel, dikutip Senin (22/6/2026)
Makna dari pernyataan tersebut menekankan bahwa liburan idealnya tidak dianggap sebagai pengeluaran spontan, melainkan bagian dari perencanaan keuangan tahunan yang sudah disiapkan sejak awal, sama seperti biaya pendidikan, tabungan, atau dana darurat.
Liburan dan Biaya Sekolah: Dua Jenis Pengeluaran yang Berbeda
Perencana keuangan menilai salah satu kesalahan umum keluarga adalah menyamakan prioritas antara liburan dan pendidikan. Secara karakter, keduanya berbeda:
-
Liburan bersifat keinginan (discretionary spending)
-
Pendidikan bersifat kebutuhan wajib (essential spending)
Ketika dua jenis pengeluaran ini terjadi dalam waktu yang berdekatan, risiko tekanan keuangan meningkat karena terjadi lonjakan pengeluaran dalam periode singkat.
Di satu sisi ada biaya liburan seperti transportasi dan rekreasi, sementara di sisi lain ada kewajiban pendidikan seperti SPP, seragam, dan buku sekolah.
Mencampur Dana Liburan dan Pendidikan
Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah menyatukan semua kebutuhan dalam satu anggaran besar tanpa pemisahan kategori. Perencana keuangan menekankan bahwa setiap tujuan finansial harus memiliki "wadah" sendiri.
"Setiap anggaran seharusnya mencakup pemasukan dan pengeluaran secara jelas. Tujuannya adalah agar seseorang bisa melihat ke mana uangnya pergi dan melakukan penyesuaian bila diperlukan." tulis certified financial planner dalam ulasan MarketWatch mengenai pentingnya budgeting yang terstruktur.
Pendidikan Harus Jadi Prioritas Utama
Biaya pendidikan selalu ditempatkan di urutan prioritas lebih tinggi dibanding pengeluaran rekreasi. Bahkan lembaga keuangan seperti Fidelity menekankan bahwa sebelum mengalokasikan dana untuk kebutuhan non-esensial seperti liburan, keluarga harus memastikan terlebih dahulu:
-
Dana darurat sudah tersedia
-
Kebutuhan wajib terpenuhi
Strategi Budgeting yang Direkomendasikan Perencana Keuangan
Beberapa metode yang banyak digunakan antara lain:
1. 50/30/20 Rule
-
50% kebutuhan pokok
-
30% keinginan (termasuk liburan)
-
20% tabungan dan dana darurat
2. Konsep Travel Fund
Perencana keuangan menyarankan agar liburan tidak dibiayai spontan, tetapi melalui tabungan khusus.
"Menyiapkan kontribusi bulanan ke dana perjalanan khusus sepanjang tahun membuat liburan terbayar sebelum terjadi" menurut panduan budgeting perjalanan FinancialAha.
Waspada Utang Konsumtif di Masa Liburan
Kemudahan akses paylater dan pinjaman online membuat sebagian keluarga cenderung menutup kekurangan biaya liburan dengan utang jangka pendek.
Pendekatan ini berisiko jika tidak dikelola dengan disiplin, karena dapat mengganggu arus kas bulan berikutnya.
Kesimpulan
Periode liburan sekolah dan tahun ajaran baru menuntut disiplin finansial yang lebih tinggi dari biasanya. Kunci utamanya adalah pemisahan anggaran, penentuan prioritas, dan menghindari pengeluaran impulsif. Dengan pendekatan yang tepat, keluarga tetap bisa menikmati liburan tanpa mengorbankan kebutuhan pendidikan anak.
(dag/dag)
Addsource on Google

11 hours ago
1
















































