Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat, seiring desakan Presiden AS Donald Trump agar sekutu-sekutunya ikut mengamankan jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz. Langkah ini sekaligus menyoroti lemahnya strategi Washington dalam menghadapi Teheran.
Trump meminta negara-negara seperti Inggris, Prancis, Jepang, hingga China untuk berpartisipasi dalam pengawalan kapal tanker minyak. Permintaan tersebut muncul di tengah meningkatnya ancaman terhadap kapal dagang di kawasan Teluk, setelah serangan militer AS dan Israel ke Iran.
Namun, respons sekutu terbilang dingin. Jepang menyatakan belum menerima permintaan resmi, sementara China belum memberikan tanggapan.
Di saat yang sama, Trump juga menekan aliansi NATO untuk ikut terlibat. "Sekarang kita akan lihat apakah mereka membantu kita," kata Trump dalam wawancara dengan Financial Times.
Ia bahkan memperingatkan "masa depan yang sangat buruk" bagi NATO jika sekutu tidak ambil bagian.
Padahal, NATO secara geografis hanya mencakup kawasan Eropa dan Amerika Utara. Selama ini, AS juga mendorong negara-negara Eropa untuk fokus pada pertahanan kawasan masing-masing, bukan konflik di Timur Tengah.
Kesiapan negara-negara Eropa pun masih terbatas. Prancis diketahui telah mengerahkan delapan kapal perang ke Mediterania timur, namun belum bersedia masuk ke Selat Hormuz hingga intensitas konflik mereda. Inggris juga masih berupaya menyiapkan kapal perusaknya, termasuk menarik HMS Dragon dari dok kering untuk segera dikerahkan.
Sebelumnya, Trump sempat mendesak pelaku industri pelayaran untuk tetap melintasi jalur tersebut. "Tunjukkan keberanian," ujarnya. Meski demikian, angkatan laut AS sendiri belum sepenuhnya mengambil peran dalam pengawalan.
"AS belum melakukannya karena kelompok serang kapal induk Abraham Lincoln dapat berada 200 km dari Oman dan menyerang Iran dengan sedikit risiko," ujar Matthew Savill dari Royal United Services Institute, seperti dikutip Guardian.
Di sisi lain, Gedung Putih dinilai gagal mengantisipasi respons Iran. Meski memiliki keterbatasan dalam opsi militer konvensional, Teheran diperkirakan akan menargetkan pangkalan AS, negara sekutu, hingga kapal dagang untuk menekan Barat.
Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, bahkan dilaporkan telah menyiapkan skenario suksesi berlapis sebagai antisipasi konflik berkepanjangan, menandakan kesiapan menghadapi eskalasi jangka panjang.
Dalam dua pekan terakhir, AS memfokuskan serangan pada target angkatan laut dan fasilitas rudal Iran. Namun, strategi ini belum mampu meredam ancaman asimetris, terutama terhadap kapal dagang sipil. Setidaknya 16 kapal telah diserang, menurut laporan Lloyd's List, sehingga banyak kapal tanker memilih menghindari Selat Hormuz.
Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright menyebut pengawalan kapal tanker kemungkinan baru dapat dilakukan "pada akhir bulan ini" setelah operasi militer tambahan.
Iran sendiri memiliki berbagai opsi serangan skala kecil, mulai dari kapal cepat milik Garda Revolusi, drone udara, hingga ranjau laut. Namun, indikasi terbaru menunjukkan penggunaan drone laut atau kapal tanpa awak menjadi salah satu metode paling efektif, yang diduga telah digunakan dalam serangan terhadap kapal tanker asal Thailand pekan lalu.
Kondisi ini mencerminkan minimnya koordinasi dan kesiapan sekutu dalam menghadapi eskalasi konflik. Analis menilai, tanpa strategi yang jelas, langkah AS berisiko memperluas konflik sekaligus meningkatkan ancaman terhadap jalur distribusi energi global.
(tfa/luc)
Addsource on Google

5 hours ago
4
















































