Terungkap! Arab Saudi "Turun Gunung" Halau Trump di Selat Hormuz

4 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menjalankan operasi militer besar di Selat Hormuz dilaporkan terganggu setelah mendapat penolakan dari Arab Saudi. NBC News melaporkan Riyadh menolak memberikan akses wilayah udara dan pangkalan militer penting bagi operasi bertajuk "Proyek Freedom" yang diumumkan Trump tanpa koordinasi lebih dulu dengan negara-negara Teluk.

Mengutip sejumlah pejabat AS, Arab Saudi disebut keberatan setelah Trump pada Minggu mengumumkan bahwa kapal-kapal berbendera Barat akan mendapat pengawalan militer AS saat melintasi Selat Hormuz. Namun, menurut laporan itu, baik Arab Saudi maupun negara-negara Teluk lainnya tidak diberi pemberitahuan sebelumnya terkait operasi tersebut.

Sebagai respons, Riyadh dilaporkan langsung membatasi akses militer Washington. Pesawat AS disebut tidak diizinkan beroperasi dari Pangkalan Udara Pangeran Sultan maupun melintasi wilayah udara Saudi untuk mendukung misi di Selat Hormuz.

Dua pejabat AS yang berbicara kepada NBC menyebut percakapan telepon antara Trump dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) gagal menyelesaikan kebuntuan tersebut. Akibatnya, Trump akhirnya menghentikan sementara Proyek Freedom hanya dua hari setelah diumumkan demi memulihkan akses militer penting AS di kawasan Timur Tengah.

Trump sebelumnya menggambarkan Proyek Freedom sebagai misi kemanusiaan untuk mematahkan blokade Iran di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dunia. Namun pada Selasa, Trump mendadak mengumumkan penghentian sementara operasi tersebut.

Ia beralasan terdapat "kemajuan besar" dalam pembicaraan damai antara AS dan Iran yang dimediasi Pakistan. Langkah mendadak itu disebut mengejutkan pejabat internal pemerintahannya sendiri.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan sempat mengatakan beberapa jam sebelum pengumuman bahwa operasi awal bertajuk "Epic Fury" telah selesai dan fokus utama kini beralih ke Proyek Freedom. Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga sempat mempromosikan operasi tersebut dengan menyebut ratusan kapal tengah mengantre untuk melintasi Selat Hormuz di bawah pengawalan militer AS.

(tfa/sef/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |